8 Bahaya Aborsi yang Perlu Anda Ketahui

Menurut data dari BKKBN, angka aborsi di Indonesia masih terbilang tinggi yang mencapai 2,4 juta per tahunnya. Sedangkan di dunia, menurut WHO, satu dari empat kehamilan berakhir dengan aborsi. Padahal banyak sekali bahaya aborsi yang perlu disadari.

Aborsi memang bukan pilihan yang mudah untuk dibuat. Namun, apapun alasannya, sebelum melakukan aborsi, sebaiknya ketahui apa saja bahaya aborsi yang akan berefek buruk pada tubuh. Apalagi jika aborsi dilakukan tanpa bantuan medis yang profesional, tentu akan sangat berbahaya bagi kondisi rahim. Bahkan dapat mengancam jiwa.

Ketahui Bahaya Aborsi yang Mungkin Terjadi

Apapun prosedur medis yang dijalani tentu saja memiliki risiko tersendiri, begitu pun dengan aborsi. Aborsi aman atau legal dan aborsi yang ilegal jelas memiliki efek samping dan risiko. Tentu saja aborsi ilegal atau tidak aman akan lebih meningkatkan risiko komplikasi. Aborsi yang tidak aman biasanya dilakukan karena mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Berikut beberapa bahaya aborsi yang mungkin terjadi:

  1. Kerusakan Rahim

Kerusakan rahim ini biasanya lebih banyak terjadi akibat aborsi lewat pembedahan. KYang termasuk kondisi kerusakan rahim yaitu kerusakan leher rahim, luka robek pada rahim (laserasi), dan perlubangan rahim (perforasi). Tapi, sebagian besarnya tidak terdiagnosis dan juga tidak terobati. Kecuali dilakukan visualisasi laparoskopi oleh dokter.

Risiko serviks lebih besar terjadi pada remaja yang melakukan aborsi sendiri di trimester kedua. Atau saat praktisi aborsi tidak berhasil memasukkan laminaria untuk dilatasi serviks.

  • Sepsis

Kasus yang umum biasanya infeksi terjadi di satu area tertentu saja, misalnya rahim. Tapi, pada kasus yang parah, infeksi bakteri bahkan masuk ke aliran darah dan mengalir ke seluruh tubuh, atau dikenal dengan istilah sepsis.

Jika sudah menyerang tubuh, maka terjadi syok sepsis, yaitu saat infeksi semakin parah dan menyebabkan tekanan darah menurun menjadi sangat rendah. Perlu diketahui bahwa syok sepsis yang terjadi setelah aborsi sudah termasuk dalam kondisi gawat darurat.

Ada dua yang menjadi faktor penyebab pada peningkatan risiko terkena sepsis, yaitu aborsi yang tidak sempurna dan terjadinya infeksi bakteri pada rahim selama proses aborsi.

Gejala yang umum dirasakan akibat sepsis setelah melakukan aborsi adalah:

  • Suhu tubuh sangat tinggi bahkan lebih dari 38ยบ Celsius atau bisa juga sangat rendah
  • Terjadinya pendarahan berat
  • Terasa nyeri yang sangat parah
  • Tuuh gemetar dan menggigil
  • Terasa dingin dan kaki hingga tangan pucat
  • Pasien merasa linglung, gelisah, letih, hingga kebingungan
  • Ketidakmampuan buang air kecil
  • Jantung berdebar cepat
  • Sulit bernapas
  • Tekanan darah rendah
  • Pendarahan Vagina Berat

Pendarahan berat yang dimaksud adalah bisa berarti adanya gumpalan darah yang lebih besar dari bola golf, pendarahan terjadi selama 2 jam atau bahkan lebih, pendarahan hebat berlangsung 12 jam berturu2-turut, atau aliran darah deras dan membuat Anda harus mengganti pembalut terlalu sering (dalam satu jam lebih dari 2 kali).

Pendarahan hebat ini dapat terjadi oleh semua jenis aborsi, bisa aborsi spontan, medis, atau ilegal. Hati-hati, ya, sebab pendarahan hebat pada vagina bisa menyebabkan kematian jika sudah sangat parah.

  • Kanker

Perempuan yang telah melakukan aborsi berisiko tinggi terkena kanker serviks. Bahkan abosri tunggal dan ganda dapat menyebabkan peningkatan risiko kanker ovarium dan kanker hati.

Risiko kanker setelah aborsi kemungkinan disebabkan oleh adanya gangguan hormonal yang tidak wajar sel selama kehamilan.

  • Infeksi Peradangan Panggul

Penyakit infeksi peradangan panggul ini terjadi disebabkan oleh peningkatan risiko kehamilan dan membuat tingkat kesuburan wanita berkurang di kemudian harinya. Bahkan infeksi peradangan panggul ini juga dapat menyebabkan kematian.

Kebanyakan infeksi ini meningkat pada kasus aborsi spontan sebab jaringan kehamilan berpeluang tertinggal di dalam rahim dan risiko terjadinya pendarahan hebat.

  • Infeksi

1 dari 10 kasus aborsi kemungkinan mengalami infeksi, terlebih pada aborsi yang dilakukan tanpa pengawasan tim dokter dan praktisi profesional. Infeksi terjadi karena leher rahim melebar selama proses aborsi akibat diinduksi obat. Lalu, bakteri dari luar akan masuk dengan mudahnya ke dalam tubuh sehingga memicu munculnya infeksi yang parah di rahim, panggul, serta saluran tuba.

  • Endrometritis

Endrometritis merupakan peradangan di lapisan rahim akibat infeksi. Endrometritis ini efek dan bahaya aborsi yang mungkin terjadi pada semua. Risiko paling tinggi adalah remaja.

  • Kematian

Wanita yang melakukan aborsi berisiko empat kali lipat kemungkinan meninggal yang disebabkan oleh kondisi kesehatan di tahun berikutnya.

Pengetahuan mengenai bahaya aborsi perlu dipahami dan diketahui oleh siapapun yang berencana menggugurkan kandungannya. Dan apapun yang dirasakan, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *