Berencana Hamil dalam Waktu Dekat? Perhatikan Faktor Risiko Anak Terkena Hipospadia

Merencanakan kehamilan membutuhkan pertimbangan dan persiapan yang matang. Mengumpulkan informasi lengkap dari berbagai sumber tentu perlu dilakukan agar kehamilan dapat berjalan dengan lancar dan janin senantiasa sehat hingga dilahirkan nanti.

Seorang ibu perlu memerhatikan persiapan kehamilan, seperti mengetahui berbagai risiko penyakit atau gangguan ketikan kehamilan. Dengan begitu, calon buah hati dapat terhindar dari cacat atau kelainan bawaan dari lahir, seperti hipospadia. Apa sebenarnya hipospadia ini dan seberapa genting kondisinya? Mari simak informasi berikut untuk mendapatkan penjelasan lengkapnya!

Mengenal lebih dekat tentang hipospadia

Hipospadia adalah suatu kondisi kelainan atau cacat pada bayi laki-laki dikarenakan uretra tidak berkembang secara sempurna. Uretra adalah saluran untuk buang air kecil yang juga berfungsi sebagai saluran untuk mengeluarkan air mani ketika dewasa nanti.

Kondisi ini menyebabkan dislokasi atau salah tempat bukaan uretra pada bayi laki-laki. Dalam kondisi normal, bukaan uretra berada pada bagian ujung kelamin. Namun, pada bayi laki-laki yang mengalami hipospadia, saluran ini terletak pada bagian bawah kelamin.

Sebenarnya, kondisi hipospadia cukup lazim terjadi. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, ia dapat berdampak pada kebiasaan membuang air kecil yang harus dilakukan dengan posisi duduk. Selain itu, hipospadia juga meningkatkan risiko kesulitan dalam berhubungan seksual.

Penanganan hipospadia akan berbeda antarsatu pasien dengan lainnya, berdasarkan pada tingkat keparahan kondisi tersebut. Ada beberapa kasus yang tidak memerlukan prosedur medis, namun beberapa lainnya diharuskan untuk ditangani dengan operasi khusus oleh dokter bedah.

Apa yang menyebabkan hipospadia?

Hipospadia terjadi akibat hormon yang seharusnya dapat merangsang pembentukan uretra dan kulit khatan tidak dapat bekerja secara optimal. Hal ini juga dapat dipicu oleh faktor keturunan dan lingkungan. Selain itu, terdapat juga faktor lain yang meningkatkan risiko anak lahir dengan hipospadia, antara lain:

  • hamil saat berusia 35 tahun ke atas
  • terkena paparan senyawa kimia tertentu, seperti pestisida ketika sedang mengandung
  • kebiasaan merokok atau menjadi perokok aktif selama mengandung
  • diabetes
  • berat badan berlebih ketika hamil
  • menggunakan prosedur tertentu agar dapat hamil, seperti prosedur bayi tabung.

Sebagai langkah pencegahan, ibu hamil perlu untuk memenuhi kebutuhan asam folat sebanyak 400-800 mikrogram setiap hari dan rutin melakukan kontrol kehamilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *