Cakaran Kucing & “Serangan” Hewan Lain yang Harus Diwaspadai

Ada tiga jenis hewan mamalia yang kerap hidup berdampingan dengan manusia, yakni kucing, anjing, dan tikus. Jika kucing dan anjing merupakan hewan peliharaan yang populer, tikus ada di sekitar kita lantaran lingkungan hidup tersebut ideal bagi mereka. Ketiganya bisa jadi “musuh dalam selimut” bagi kita. Contohnya kucing, meski lucu, cakaran kucing bisa jadi masalah, lho.

Terlebih jika kucing itu dikategorikan liar, dalam artian bukan hewan yang dipelihara manusia. Kemungkinannya untuk menularkan penyakit semakin besar. Jadi, kita tetap harus waspada terhadap kucing. Begitu pula dengan anjing dan tikus.

Berikut beberapa bahaya di balik tiga hewan yang ada di sekitar manusia tersebut:

  • Gigitan Anjing

Sudah bukan rahasia umum jika gigitan anjing harus selalu dihindari lantaran kemungkinan buruk yang bisa dialami oleh orang yang malang tersebut. Ya, hal itu lantaran anjing berpotensi besar menularkan virus rabies kepada manusia melalui gigitannya.

Rabis dan anjing ini sudah begitu melekat. Bahkan, rabies disebut pula sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan virus akut yang menyerang sistem saraf pusat manusia atau mamalia.

Ketika seseorang tergigit anjing yang telah terinfeksi rabies, virus akan masuk ke pembuluh darah dan menyebar di dalam tubuh. Saat sudah mencapai otak, virus rabies akan menggandakan diri dengan cepat. Hal ini kemudian dapat menyebabkan peradangan berat pada otak dan saraf tulang belakang yang membahayakan kondisi pasien dan berpotensi besar menyebabkan kematian.

Penyebaran akan terjadi lebih cepat apabila pasien mengalami gigitan atau cakaran pada area leher atau kepala. Setelah virus rabies ini masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu virus tersebut tetap tinggal di tempat masuk dan di dekatnya, yang kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan adanya perubahan fungsi saraf.

Umumnya, masa inkubasi virus rabies adalah sekitar 4 hingga 12 minggu setelah gigitan anjing yang terinfeksi virus. Ada beberapa faktor yang menyebabkan waktu munculnya gejala berlangsung lebih cepat atau lebih lambat. Orang yang terinfeksi virus rabies biasanya akan mengalami gejala berupa: linu dan kesemutan; gelisah; linglung; dan gejala umum seperti flu.

  • Cakaran Kucing

Meskipun terlihat sederhana, jika tidak ditangani dengan baik, cakaran kucing dapat menyebabkan infeksi yang disebabkan bakteri Bartonella henselae, Staphylococcus, Streptococcus, dan Pasteurella. Perawatan luka cakaran kucing harus dilakukan dengan benar untuk meminimalisir risikonya.

Di dalam dunia medis, penyakit akibat cakaran kucing dikenal sebagai “demam cakaran kucing”. Orang yang baru saja tercakar kucing, apalagi kucing liar, harus segera datang ke rumah sakit. Kalau bisa, sebelum cakaran kucing itu “berumur” 8 jam. Langkah ini diperlukan untuk mencegah datangnya infeksi.

Sama seperti penyakit pada umumnya, cakaran kucing akan menimbulkan berbagai macam gejala pada tubuh sang penderita. Beberapa gejala itu bahkan membutuhkan penanganan medis yang serius dan segera.

Tanda paling mudah untuk mendeteksi adanya infeksi setelah menerima cakaran kucing adalah demam. Kondisi itu memang sebuah mekanisme alami tubuh untuk mempertahankan diri dari serangan bakteri. Selain itu, gejala-gejala seperti pusing atau sakit kepala, kelelahan, benjolan merah, dan menurunnya nafsu makan juga mungkin dirasakan.

Untuk memperkecil risiko munculnya infeksi, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menekan bagian luka cakaran kucing, hingga darahnya keluar. Hal ini dilakukan agar bakteri bisa dikeluarkan lewat darah.

Kemudian, bersihkan luka cakaran kucing dengan air bersih yang mengalir. Hentikan perdarahannya dengan kain bersih dan oleskan salep untuk luka, jika ada. Setelah itu, tutuplah luka dengan perban sampai Anda datang ke dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

  • Kencing Tikus

Hampir semua orang sepakat bahwa tikus adalah hewan kotor dan menjijikan. Dia bisa membawa berbagai penyakit bagi manusia. Air kencingnya bahkan diklasifikasikan sebagai penyakit tersendiri. Kencing tikus atau dalam istlah medis disebut leptospirosis tidak bisa disepelekan, pada tahap atau kondisi tertentu, penyakit itu bisa mematikan.

Gejala awal dari leptospirosis ini menyerupai flu, yaitu demam tinggi, sakit kepala, menggigil, dan nyeri. Pada tahap lebih lanjut, muncul gejala berupa muntah, sakit kuning, nyeri perut, diare, dan ruam.

Gejala umumnya terjadi selama sepekan. Jika tidak diobati, infeksi dapat menyebabkan kerusakan ginjal, hati, meningitis, gangguan pernapasan hingga kematian. Kuman penyebab leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Bahkan leptospira juga bisa bertahan di tanah yang lembap, tanaman, maupun lumpur dalam waktu lama.

Kuman leptospira ini dapat ‘berenang’ di air sehingga bisa menginfeksi kaki manusia yang sedang terluka. Leptospira juga bisa menginfeksi seseorang melalui makanan atau minuman. Umumnya laporan orang yang terkena leptospirosis terjadi setelah banjir.

***

Itulah beberapa bahaya yang bisa diterima manusia jika tidak waspada terhadap hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat, serta memastikan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing dalam kondisi baik menjadi suatu keharusan.

Jangan sampai anggota keluarga harus menderita lantaran cakaran kucing, gigitan anjing, maupun kencing tikus yang sebenarnya dapat dihindari jika kita peduli dengan lingkungan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *