Kontrol Kondisi Janin di Dalam Rahim dengan Pemeriksaan Cardiotocography

Kontrol Kondisi Janin di Dalam Rahim dengan Pemeriksaan Cardiotocography

Ibu hamil mungkin tidak asing dengan istilah cardiotocography. Pemeriksaan cardiotocography atau CTG merupakan pemeriksaan untuk mengukur detak jantung janin di dalam kandungan serta melihat apakah janin telah mendapatkan oksigen yang cukup dari plasenta. 

Anda dapat memantau ada atau tidaknya gangguan kesehatan janin sebelum masa persalinan dengan pemeriksaan cardiotocography, sehingga dokter dapat merencanakan penanganan yang tepat. Disarankan juga bagi ibu hamil untuk menjalani pemeriksaan ini bersamaan dengan pemeriksaan lain untuk mendeteksi kondisi tertentu yang dialami ibu hamil seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan lainnya.

Kondisi yang Disarankan untuk Melakukan Pemeriksaan Cardiotocography

Pemeriksaan cardiotocography dianjurkan untuk dilakukan oleh semua ibu hamil. Namun, terdapat beberapa kondisi tertentu dimana pemeriksaan ini harus segera dilakukan. Kondisi-kondisi tersebut diantaranya:

  • Terdapat gangguan plasenta yang menghambat proses penyebaran darah ke janin
  • Pergerakan janin berkurang atau bahkan berhenti sama sekali
  • Berat badan janin di bawah berat normal
  • Ibu hamil mengalami demam tinggi
  • Mengalami infeksi hepatitis B dan C atau HIV
  • Ketuban pecah sebelum waktunya
  • Ibu hamil menderita penyakit lain yang membahayakan kondisi janin
  • Kehamilan kembar
  • Ibu hamil mengalami perdarahan saat persalinan
  • Ibu hami mempunyai riwayat kematian janin di dalam kandungan pada trimester kedua pada kehamilan sebelumnya

Prosedur Pemeriksaan Cardiotocography 

Pada dasarnya, pemeriksaan ini tidak jauh berbeda dengan pemeriksaan ultrasonografi atau USG. Prosedur dari pemeriksaan cardiotocography adalah sebagai berikut:

  • Posisi ibu hamil disarankan duduk di kursi atau tidur di atas kasur periksa dengan posisi menyamping
  • Pemeriksaan dilakukan dengan alat pemantau, namun sebelumnya dokter akan mengoleskan gel di perut ibu hamil agar alat yang digunakan dapat menempel
  • Alat pemantau yang berbentuk dua piringan akan tersambung dengan tali elastis sebagai pemantau detak jantung janin
  • Salah satu piringan berfungsi untuk memonitor detak jantung dan satunya lagi berfungsi untuk mengukur tekanan dalam perut ibu hamil

Pemeriksaan ini akan memakan waktu sekitar 20 hingga 60 menit. Selain mengetahui detak jantung bayi, dokter juga dapat akan mengetahui seberapa baik janin dapat menerima oksigen di dalam rahim. Pemeriksaan cardiotocography juga akan menunjukkan respon janin di dalam kandungan terhadap kontraksi yang terjadi pada perut ibu.

Hasil Pemeriksaan Cardiotocography 

Alat yang digunakan untuk pemeriksaan cardiotocography akan mengeluarkan hasil reaktif atau non reaktif. Jika hasil menunjukkan detak jantung meningkat dengan jumlah yang diinginkan, maka hasil tersebut dapat dikatakan reaktif. Apabila hasil yang didapatkan adalah hal sebaliknya, maka dapat dikatakan non reaktif.

Untuk detak jantung janin yang normal akan berkisar antara 110 -160 kali/menit. Untuk hasil non reaktif, hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:

  • Jumlah detak jantung kurang dari 110 kali/menit
  • Jumlah detak jantung lebih dari 160 kali/menit
  • Irama detak jantung tidak normal
  • Detak jantung janin tidak mengalami peningkatan ketika bergerak atau saat kontraksi

Anda tidak perlu langsung khawatir jika hasil pemeriksaan menunjukkan non-reaktif, hal ini bisa saja disebabkan karena dikarenakan janin sedang tidur nyenyak saat pemeriksaan. Dokter kemungkinan akan mencoba kembali setelah membuat Anda bergerak atau membangunkan janin menggunakan stimulator akustik janin.

Jika hasil tidak normal karena janin tidak mendapatkan oksigen dalam jumlah yang cukup, dokter bisa melakukan cara-cara berikut:

  • Mengubah posisi ibu hamil
  • Memberikan cairan infus
  • Memberikan oksigen
  • Memberikan obat untuk merelaksasikan rahim sehingga mengurangi kontraksi

Jika setelah melakukan beberapa cara dan mengulangi pemeriksaan cardiotocography namun hasil masih non reaktif, dokter mungkin akan menyarankan persalinan dini. Pastikan Anda selalu melakukan pengecekan pada kondisi janin untuk memastikan janin tetap sehat dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Perbedaan Stillbirth dengan Keguguran

Sudah menjadi harapan semua calon orang tua, khususnya para ibu untuk memiliki kehamilan yang sehat. Meski begitu dalam masa kehamilan, ada beragam masalah yang dapat timbul seperti risiko terjadinya keguguran dan stillbirth. Bisa dibilang terdengar asing, stillbirth adalah kematian bayi yang masih di dalam kandungan biasanya muncul pada minggu ke-20 masa kehamilan.

Tidak semua kematian janin yang ada di dalam kandungan disebut dengan keguguran, hal ini tak lepas dari adanya dua kemungkinan buruk yang bisa terjadi selama masa-masa kehamilan, bisa itu keguguran dan IUFD atau Intrauterine Fetal Death. Banyak orang yang masih salah mengartikan kedua kemungkinan ini pada saat janin mendadak tidak bernyawa.

Beda Stillbirth dan Keguguran

Stillbirth adalah kematian janin sebelum dilahirkan, janin yang meninggal di dalam kandungan terjadi ketika usia kehamilan sudah berada di atas 20 minggu. Pada umumnya dalam kasus ini tidak bisa dicegah karena terjadi di dalam kandungan. Meski begitu risikonya masih bisa dikurangi dengan memahami berbagai faktor pemicu dan langkah pencegahan yang tepat.

Perlu diketahui bahwa stillbirth bisa terjadi pada ibu hamil yang usia kandungannya sudah memasuki trimester kedua akhir hingga trimester ketiga. Pada fase ini biasanya organ tubuh pada janin sedang tumbuh ke arah yang lebih sempurna, kondisi ini juga termasuk salah satu masalah kehamilan yang cukup menakutkan karena menyebabkan kematian pada janin dalam kandungan.

Sementara itu keguguran merupakan kematian janin dalam kandungan sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Kondisi ini bisa terjadi pada trimester pertama hingga pertengahan trimester kedua kehamilan. Kondisi ini disebut juga abortus spontan, sering terjadi karena janin di dalam kandungan tidak berkembang secara normal.

Pada umumnya keguguran bisa terjadi pada ibu hamil dengan memperlihatkan tanda-tanda atau juga gejala yang berupa munculnya cairan, darah atau jaringan yang keluar dari vagina. Selama fase ini berlangsung, perempuan akan mengalami nyeri pada bagian perut hingga area punggung bawah ibu hamil.

Faktor Pemicu Stillbirth dan Keguguran

Stillbirth dapat terjadi ketika ibu hamil memiliki riwayat yang sama pada kehamilan sebelumnya atau pernah melahirkan secara prematur. Selain itu, kondisi ini bisa muncul sewaktu-waktu di usia kehamilan 20 minggu ke atas karena berbagai faktor. Berikut beberapa faktor yang bisa memengaruhi seseorang mengalami stillbirth.

  • Fungsi plasenta tidak bekerja dengan baik dan seperti seharusnya.
  • Usia kehamilan yang telah melewati batas waktu normal pada umumnya.
  • Muncul masalah pada kondisi kesehatan selama masa kehamilan.
  • Memiliki gaya hidup yang kurang sehat saat masa-masa kehamilan.
  • Mengalami gawat janin yang bisa terjadi karena tidak ada pasokan oksigen cukup.
  • Adanya kelainan kromosom pada janin, sehingga pertumbuhan terhenti.

Faktor lain yang bisa menyebabkan stillbirth adalah janin di dalam kandungan terlilit oleh tali pusar, gerakan bayi yang aktif bisa berpotensi menimbulkan permasalahan ini sehingga menyebabkan asupan nutrisi dan oksigen menjadi terhenti. Selama masa kehamilan, ibu sangat disarankan memiliki waktu istirahat yang cukup dan berkualitas dan jangan sampai tubuh merasa kelelahan.

Sama halnya seperti keguguran yang menjadi momok menakutkan bagi para ibu hamil, sehingga membuat mereka berusaha terus menjaga janin di dalam kandungan. Berikut ini terdapat beberapa faktor pemicu keguguran yang bisa muncul selama masa kehamilan.

  • Pola hidup yang tidak sehat.
  • Mengalami stres atau depresi saat hamil.
  • Berada di lingkungan yang tercemar terhadap asap rokok.
  • Munculnya masalah yang terjadi pada perkembangan janin, termasuk gangguan terkait plasenta.