Cara Bedakan Pusing Vertigo dan Darah Rendah

Cara Bedakan Pusing Vertigo dan Darah Rendah

Pusing menjadi salah satu kondisi yang membuat seseorang merasa tak nyaman, baik saat beraktivitas maupun dalam keadaan santai. Salah satu sensasi yang terasa ketika seseorang pusing biasanya badan terasa melayang tak karuan, kliyengan, sakit kepala hingga ingin pingsan. Banyak yang mengira pusing adalah penyakit yang bisa diatasi dengan obat.

Padahal pusing merupakan salah satu gejala dari gangguan kesehatan yang dialami seseorang, meski umum terjadi sebaiknya tidak menyepelekan jika mengalami pusing. Pusing bisa menjadi pertanda penyakit yang cukup serius dalam tubuh, seperti penyakit vertigo dan darah rendah yang kerap kali disamakan meskipun ternyata berbeda.

Beda Pusing Vertigo dan Darah Rendah

Secara umum pusing yang dialami seseorang muncul secara perlahan dan tiba-tiba, pusing bisa muncul lebih parah ketika seseorang juga melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berdiri, berjalan, berbaring hingga menggerakan kepala. Sangat disarankan untuk tidak mengonsumsi obat-obatan sebelum mengetahui apa yang dialami sebenarnya.

Sama halnya dengan vertigo dan darah rendah, pusing yang disebabkan kedua penyakit ini sangat berbeda. Sangat penting untuk mengetahui perbedaan sensasi pusing yang disebabkan oleh kedua penyakit ini, berikut penjelasan singkatnya.

  • Vertigo

Terbagi menjadi dua yakni sentral dan perifer, vertigo sentral muncul karena adanya kelainan di otak kecil yang disebabkan karena stroke, tumor otak atau gangguan lainnya. Sementara vertigo perifer muncul karena gangguan di organ vestibular di telinga, seperti pada penyakit meniere atau gangguan pendengaran.

Secara umum pusing yang muncul karena vertigo membuat si penderita merasakan sensasi kepala berputar, badan terasa melayang. Sensasi ni bisa disertai gejala lain, seperti mual, muntah, berkeringat, pergerakan bola mata tidak sesuai hingga gangguan pendengaran.

  • Darah Rendah

Seseorang bisa dikatakan mengalami darah rendah atau hipotensi jika memiliki tekanan darah rendah di bawah 90/60 mmHg. Biasanya ditandai dengan sensasi pusing dan tentu berbeda dengan yang dirasakan penderita vertigo, pusing yang dirasakan terasa seperti kliyengan.

Kondisi ini juga disertai dengan gejala lain seperti lemas, pandangan buram, konsentrasi berkurang, tubuh terasa tidak stabil hingga mengalami sesak napas. Gejala yang muncul memang sedikit mirip dengan vertigo, tetapi tak lantas membuat keduanya sama.

Perlu diketahui jika tidak hanya diakibatkan kedua penyakit di atas, pusing yang dirasakan seseorang bisa merupakan tanda penyakit lain pada tubuh. Seperti gangguan pada telinga, masalah peredaran darah, gangguan saraf, penyakit anemia atau kekurangan darah, kekurangan gula dalam darah, gangguan kecemasan hingga dehidrasi karena cuaca panas.

Mudahnya membedakan pusing vertigo dengan darah rendah adalah orang yang mengalami vertigo cenderung merasakan sensasi badan terasa melayang dan berputar-putar karena adanya gangguan keseimbangan di dalam telinga dalam. Sementara, tekanan darah rendah bisa menyebabkan pusing tetapi bukan merupakan alasan munculnya vertigo.

Pemeriksaan untuk Memastikan

Seseorang yang mengalami beberapa gejala kedua penyakit di atas disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit terdekat. Pemeriksaan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui penyebab pusing yang muncul, bisa dengan pemeriksaan keseimbangan, MRI  atau CT Scan hingga tes darah.

Seperti yang dijelaskan sedikit di atas bahwa pusing merupakan tanda munculnya penyakit selain vertigo atau karena tekanan darah, tentu jika seseorang sudah melakukan pemeriksaan maka akan lebih mudah untuk mengambil langkah penanganan atau pencegahan. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh dokter spesialis saat berkonsultasi.

Vaksin Corona Oxford Diproduksi, Akankah Pandemi Segera Usai?

Vaksin Corona Oxford Diproduksi, Akankah Pandemi Segera Usai?

Pandemi Covid-19 telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sebagai upaya mengatasi penyebaran virus, berbagai negara telah melakukan uji coba untuk mengembangkan vaksin. Salah satu vaksin yang dianggap paling menjanjikan adalah vaksin corona Oxford. 

Vaksin corona Oxford dikembangkan oleh para peneliti dari University of Oxford di Inggris, yang bekerja sama dengan perusahaan farmasi AstraZeneca. Berdasarkan hasil uji klinis, suntikan dari vaksin ini mampu membentuk antibodi dan sel T yang membantu dalam melawan virus corona. 

Cara kerja vaksin corona Oxford

Vaksin ini sebenarnya diberi nama ChAdOx1 nCoV-19. Dibandingkan dengan proses pengembangan vaksin yang pernah dilakukan sebelumnya, durasi pengembangan vaksin ini tergolong sangat cepat.

Selain itu, vaksin ini juga dikenal sebagai vaksin vektor virus. Para peneliti memanfaatkan jenis virus lain sebagai wahana untuk menghimpun data genetik Covid-19. 

Vaksin corona Oxford menggunakan adenovirus dari simpanse yang dilemahkan, menyebabkan flu biasa pada simpanse. Kode genetik pada virus tersebut diubah agar tidak berkembang biak pada manusia.

Para peneliti mengembangkan vaksin dengan mentransfer instruksi genetik untuk “protein lonjakan” virus corona, yaitu protein yang digunakan untuk menyerang sel manusia. Melalui virus yang direkayasa ini, sistem kekebalan tubuh akan dipicu untuk melawan virus corona ketika seseorang terinfeksi. 

Dengan kata lain, vaksin tersebut akan meniru virus corona, melatih sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi dan mempelajari cara untuk menyerang virus yang masuk saat seseorang terinfeksi. 

Pembentukan antibodi dan sel T oleh vaksin corona Oxford

Vaksin corona Oxford berkontribusi dalam membentuk antibodi dan sel T untuk melawan virus corona. Antibodi merupakan protein kecil yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh yang menempel pada permukaan virus.

Sementara, sel T adalah sejenis sel darah putih yang membantu dalam mengoordinasikan sistem kekebalan dan mampu mengenali sel tubuh mana saja yang telah terinfeksi dan menghancurkannya. 

Tingkat sel T akan memuncak kira-kira 14 hari setelah menerima suntikan vaksin. Sementara, tingkat antibodi akan meningkat selama kurang lebih 28 hari setelah vaksinasi. Akan tetapi, belum ada penelitian yang bisa menunjukkan berapa lama vaksin tersebut bisa bertahan di dalam tubuh Anda. 

Berdasarkan hasil uji klinis, telah terbukti bahwa 90 persen peserta uji klinis berhasil mengalami perkembangan antibodi di dalam tubuhnya setelah satu dosis vaksinasi. 

Hanya sepuluh orang dari seluruh peserta uji klinis yang mendapatkan vaksin dengan dua dosis. Kesepuluh orang itu menunjukkan adanya perkembangan antibodi penetral yang efektif dalam menonaktifkan virus corona. 

Amankah penggunaan vaksin corona Oxford untuk semua orang?

Karena baru dikembangkan untuk pertama kalinya, banyak orang meragukan efektivitas vaksin ini. Salah satu keraguan yang umum muncul adalah adanya resiko dan efek samping setelah menerima vaksinasi.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, vaksin ini aman untuk digunakan. Secara keseluruhan, tidak ada efek samping berbahaya yang ditimbulkan. Akan tetapi, sekitar 17 persen peserta uji klinis mengalami demam dan lebih dari 6-10 peserta mengalami efek samping berupa sakit kepala.

Meski begitu, efek samping ini bisa dikelola dengan mudah melalui konsumsi parasetamol. 

Sejauh ini, berdasarkan hasil uji klinis, para peneliti dari Oxford cukup optimis terhadap keberhasilan vaksin corona Oxford dalam mengatasi penyebaran virus yang tak kunjung selesai. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk bisa benar-benar memastikan bahwa vaksin ini sepenuhnya efektif dalam mengelola pandemi

Segera Diedarkan, Segini Perkiraan Harga Vaksin Corona di Indonesia

Segera Diedarkan, Segini Perkiraan Harga Vaksin Corona di Indonesia

Vaksin menjadi satu-satunya harapan untuk menekan pandemi corona di seluruh dunia. Kabar baiknya, WHO telah menerima lebih dari 100 kandidat vaksin Covid-19 yang sedang diuji coba. 

Pemerintah sendiri akan segera menyediakan vaksin corona di Indonesia, yang direncanakan tersedia pada bulan November mendatang.

Jenis vaksin corona di Indonesia dan perkiraan harganya

Indonesia bekerja sama dengan beberapa produsen baik luar negeri maupun dalam negeri untuk membantu menekan angka penyebaran Covid-19 yang terus menanjak naik. 

Berikut ini 3 vaksin corona yang siap diedarkan di Indonesia beserta perkiraan harganya:

  1. CoronaVac

CoronaVac merupakan vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan biofarmasi asal China, Sinovac. Jenis vaksin ini menggunakan versi tidak aktif dari virus yang kemudian disuntikkan ke tubuh manusia.

Vaksin ini telah melewati fase I dan II yang telah dilangsungkan di China, dan ribuan orang tengah menjadi relawan uji coba vaksin CoronaVac fase III di Indonesia, Brazil, dan Indonesia.

Berita terbaru menyebutkan Brazil baru saja selesai melewati uji coba fase III dan pemerintah setempat mengatakan sejauh ini Sinovac menjadi vaksin corona teraman yang pernah diuji coba di Brazil.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, harga vaksin CoronaVac diperkirakan berkisar antara US$10-US$20 atau sekitar Rp 148 ribu hingga Rp 296 ribu rupiah.

Sinovac menjanjikan akan mengirim kurang lebih 3 juta dosis vaksin single dose hingga akhir bulan Desember 2020, dengan pengiriman pertama pada November minggu pertama sebanyak 1,5 juta dosis vaksin, dan sisanya dikirim pada Desember awal.

  1. Vaksin G42 atau Sinopharm

Vaksin G42 merupakan vaksin coronavirus yang dikembangkan oleh Grup Farmasi Nasional China, Sinopharm. Sama seperti CoronaVac, vaksin ini memanfaatkan virus corona yang sudah dilemahkan atau inactivated virus.  

Vaksin ini telah melewati dua tahap uji klinis dengan hasil yang cukup baik atau tidak ditemukan dampak negatif pada para relawan. 

Menurut Ketua China National Pharmaceutical Group (Sinopharm), Liu Jingzhen, dua kali suntikan vaksin sinopharm akan dibiayai kurang dari 1.000 yuan, atau di Indonesia sekitar Rp 2,1 juta.

Ia menambahkan, Sinopharm siap mengirim 15 juta dosis vaksin dual dose, dan pengiriman pertama pada bulan November 2020 sebanyak 5 juta dosis.

  1. Cansino (Ad5-nCoV)

Vaksin covid yang satu ini dikembangkan oleh perusahaan biofarmasi spesialis vaksin di China, CanSino Biologics Inc bersama dengan tim yang dipimpin pakar penyakit menular dari militer China, Chen Wei.

Cansino merupakan jenis vaksin hasil rekayasa genetika adenovirus tipe 5 replikasi. Pada uji coba hewan, vaksin ini dapat menginduksi kekebalan tubuh hewan dan menghasilkan respon imun yang kuat.

Uji klinis vaksin Cansino dilakukan di Arab Saudi dengan menggandeng 5.000 sukarelawan. 

Cansino akan mengirimkan kurang lebih 100.000 vaksin single dose pada November 2020, dan sekitar 15 hingga 20 juta dosis pada tahun 2021. Sementara itu belum ada pengumuman resmi berapa kisaran harga vaksin ini. 

Vaksin corona buatan Indonesia

Kandidat vaksin corona di Indonesia tak hanya berasal dari produsen luar dan kerjasama internasional. Pemerintah Indonesia juga sedang menyiapkan vaksin corona hasil karya anak bangsa.

Vaksin ini dikembangkan oleh Lembaga Biomolekuler Eijkman (LBME) dan diberi nama vaksin Merah Putih. 

Berbeda dengan ketiga vaksin di atas, vaksin buatan Indonesia menggunakan metode rekombinan, dimana hanya bagian tertentu virus yang diambil kemudian direplikasi dan dijadikan antigen.

Vaksin Merah Putih diperkirakan rampung pada pertengahan tahun 2021. Adapun hingga kini belum dipastikan berapa biaya untuk suntik vaksin Merah Putih.

Selagi menunggu vaksin corona di Indonesia rampung dan diresmikan, terus terapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan virus corona.

Jika ada pertanyaan seputar virus Covid-19, Anda bisa langsung berkonsultasi dengan dokter berpengalaman di aplikasi layanan kesehatan SehatQ dengan mengunduhnya secara gratis di App Store atau Google Play Store.

Waspada, Ensefalitis Virus Bisa Sebabkan Kerusakan Otak Permanen!

Ensefalitis atau radang otak adalah peradangan yang terjadi pada jaringan otak, di mana kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan saraf. Sedangkan, ensefalitis virus adalah peradangan otak yang disebabkan oleh virus.

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti campak dan rubella juga dapat berkembang hingga menjadi radang otak. Mikro-organisme lain, seperti bakteri, jamur, dan parasit mampu memicu ensefalitis. Tetapi virus, terutama kelompok yang dikenal sebagai enterovirus adalah penyebab utamanya. Namun, apakah virus tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada otak secara permanen?

Benarkah ensefalitis virus sebabkan kerusakan otak secara permanen?

Jadi, begitu berada di dalam darah, virus tersebut akan bermigrasi ke otak tempat di mana mereka akan berkembang biak. Tubuh akan memperhatikan invasi dan meningkatkan respon sistem kekebalan tubuh kita. Jika virus berkembang biak di otak, hal ini bisa menyebabkan otak membengkak. Kombinasi infeksi dan respon imun menciptakan gejala khas ensefalitis virus.

Komplikasi yang paling potensial dan paling serius dari kondisi ini adalah kerusakan otak secara permanen. Jadi, benar adanya jika esenfalitis virus bisa sebabkan kerusakan permanen pada otak. Anak-anak berusia di bawah satu tahun dan orang dewasa berusia di atas 55 tahun lebih rentan terhadap komplikasi yang mengancam jiwa ini.

Gejala ensefalitis virus

Beberapa orang yang mengalami ensefalitis virus akan mengalami beberapa gejala sebagai berikut:

  • Suhu tinggi
  • Sakit kepala
  • Kepekaan terhadap cahaya (fotofobia)
  • Malaise umum
  • Leher kaku
  • Punggung kaku
  • Muntah
  • Perubahan kepribadian
  • Kebingungan
  • Kehilangan ingatan
  • Kejang
  • Kelumpuhan
  • Koma

Beberapa jenis virus yang menyebabkan ensefalitis, diantaranya:

  • Enterovirus, seperti coxsackievirus, poliovirus, dan echovirus
  • Virus herpes simpleks
  • Virus varicella zoster
  • Virus Epstein-Barr
  • Sitomegalovirus
  • Adenovirus
  • Rubella
  • Campak
  • Virus Murray Valley encephalitis (MVE) dan virus Kunjin
  • Virus ensefalitis Jepang

Cara penularan virus

Virus tersebut dapat menyebar dengan berbagai cara, dan beberapa lebih menular daripada yang lainnya. Nah, berikut beberapa cara penularan virus, di antaranya:

  • Batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi, yang melepaskan virus ke udara, kemudian dihirup oleh orang lain
  • Serangga yang terinfeksi (seperti nyamuk atau kutu) dan hewan, yang dapat mentransfer beberapa virus langsung ke aliran darah melalui gigitannya
  • Makan makanan atau minuman yang terkontaminasi
  • Transfer beberapa virus dapat terjadi melalui sentuhan pada orang yang terinfeksi
  • Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa beberapa kasus ensefalitis virus disebabkan oleh infeksi virus yang tidak aktif (seperti virus herpes simpleks) menjadi aktif kembali.

Komplikasi

Bayi, orang tua, dan orang dengan kekebalan tubuh yang berkurang berisiko tinggi mengalami komplikasi ensefalitis virus ini. Beberapa komplikasi tersebut antara lain:

  • Tekanan darah rendah (hipotensi)
  • Kadar oksigen rendah dalam darah (hipoksemia)
  • Perdarahan di dalam otak (perdarahan intraserebral)
  • Kerusakan otak permanen
  • Kematian

Infeksi dan respon sistem kekebalan tubuh

Begitu virus mendapatkan akses ke aliran darah, mereka dapat berkembang biak dan menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk ke sumsum tulang belakang dan otak (sistem saraf pusat). Akses ke otak adalah melalui darah atau saraf. Setelah menembus sawar darah-otak, virus akan menyelinap ke dalam sel otak. Kondisi ini tentu akan sangat mengganggu, merusak dan pada akhirnya menghancurkan sel-sel otak yang terinfeksi.

Virus tertentu memiliki preferensi untuk area otak yang berbeda. Misalnya, virus herpes simpleks suka menargetkan lobus temporal yang treletak di dekat setiap telinga. Sel-sel sistem kekebalan bergegas ke otak dan mulai menyerang virus. Hal ini akan menyebabkan pembengkakan otak (celebral edema). Baik infeksi dan upaya tubuh untuk melawan infeksi bertanggung jawab atas gejala ensefalitis virus.

Pengobatan

Tidak seperti bakteri, virus lebih sulit untuk diobati. Obat antivirus hanya bekerja pada beberapa jenis virus saja. Perawatan bertujuan untuk mengurangi keparahan gejala dan berikut beberapa perawatan yang biasanya diberikan pada penderita ensefalitis virus:

  • Obat antivirus, diberikan secara inravena, jika virus diketahui rentan terhadap pengobatan dengan pbat antivirus (seperti virus herpes simpleks)
  • Pemberian obat intravena untuk membantu mengurangi pembengkakan otak
  • Obat pereda nyeri
  • Obat untuk mencegah muntah
  • Obat untuk mencegah kejang (antikonvulsan)
  • Obat untuk menurunkan demam, seperti paracetamol
  • Cairan untuk mencegah dehidrasi, tapi jangan terlalu banyak karena ini bisa memperburuk edema serebral (pembengkakakn otak).

Jadi, jika Anda mengalami beberapa gejala di atas atau bahkan makin memburuk, segera lakukan perawatan terkait dengan ensefalitis virus. Sakit kepala parah, demam, dan kesadaran yang berubah membutuhkan perawatan segera.

Apa Itu Acute Necrotizing Encephalopathy? Ini Penyebabnya

Merupakan salah satu jenis penyakit langka dan berbahaya yang menyerang otak dengan cepat disebut dengan acute necrotizing encephalopathy. Penyakit ini juga dikenal dengan singkatan ANE dan lebih sering menyerang anak-anak dan remja. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa juga bisa terserang penyakit ini.

ANE adalah penyakit yang menyebabkan kerusakan luas pada otak atau ensefalopati, kondisi ini ditandai dengan kematian sel-sel otak atau nekrosis pada area tertentu. Kondisi ini juga berlangsng secara akut, artinya dalam jangka waktu yang cepat. Selain nekrosis, otak juga akan mengalami pembengkakan hingga sering ditemukan pendarahan.

Tanda Acute Necrotizing Encephalopathy

Bagian otak yang biasanya mengalami ANE adalah kedua talamis, otak bagian tengah (midbrain) dan hindbrain. Kondisi ini pada umumnya didahului oleh infeksi virus, sehingga gejala awal yang dialami penderita meliputi beberapa tahap. Di antaranya demam, gangguan pernapasan bisa seperti batuk, pilek hingga sakit tenggorokan.

Kemudian gangguan pencernaan seperti mual, muntah dan juga diare, setelah beberapa adanya kondisi ini akan muncul kerusakan otak yang luas dan berkembang dengan cepat. Sehingga membuat penderita mengalami beberapa gejala, berikut ini beberapa gejala yang dialami pasien saat terjadi kerusakan otak.

  • Lemah dan cenderung tidak dapat berkomunikasi, kebingungan hingga terjadi penurunan kesadaran sampai koma.
  • Mengalami kejang, lalu munculnya gangguan fungsi saraf baik sensorik dan motorik seperti kelemahan anggota gerak tubuh.
  • Tidak stabil saat dipaksa berjalan dan penurunan fungsi pada indera penglihatan dan pendengaran dengan cepat.

Penyebab ANE

Hingga saat ini belum diketahui penyebab dan mekanisme terjadinya ANE pada seseorang, meskipun banyak teori yang menyebutkan jika penyakit ini disebabkan karena hipersensitif tubuh karena dipicu adanya nfeksi viral. Pendapat lain menyebutkan jika ANE terjadi karena kombinasi dari faktor lingkungan dan faktor genetik.

Beberapa jenis virus yang sering berkembang menjadi ANE di antaranya seperti influenza A, influenza B dan human herpes virus 6 (HHV 6). Terbaru, terdapat laporan yang menyebutkan jika Covid-19 juga dapat menyebabkan seseorang terkena ANE. Faktor generik yang memengaruhi adalah mutasi gen Ran Binding Protein 2 (RANBP2).

Kondisi mutasi itu juga dikenal sebagai infection-induced acute encephalopathy 3 (IIAE3), karena gejala yang muncul sangat beragam dan tidak spesifik di awal fase. Maka, seseorang tidak disarankan untuk melakukan diagnosis sendiri terhadap gejala yang muncul, segera lakukan konsultasi dengan dokter.

Dokter biasanya akan bertanya mengenai riwayat infeksi virus sebelum terjadi perkembangan ANE dan riwayat mengenai konsumsi obat-obatan. Setelah itu, dokter akan melanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik guna mendeteksi adanya gangguan saraf. Di tahap akhr, dibutuhkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis, di antaranya seperti berikut.

  • Pemeriksaan Darah Lengkap

Dilakukan untuk mendeteksi leukopenia atau penurunan jumlah sel darah putih yang menjadi tanda adanya infeksi virus.

  • Scan Otak

Bisa dilakukan dengan CT Scan atau MRI, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kerusakan otak terutama dibagian talamus, batang otak area putih dekat ventrikel dan oak kecil.

  • Pungsi Lumbal

Merupakan prosedur penarikan cairan serebrospinal dari sumsum tulang belakang, hasil tes biasanya akan menunjukkan peningkatan jumlah protein yang tidak disertai peningkatan jumlah sel.

Untuk pengobatan acure necrotizing encephalopathy tergantung dari kondisi klinis pasien, hingga saat ini belum ada protokol yang dijadikan sebagai dasar pengobatan ANE. Namun, terdapat tiga jenis pengobatan dasar yang dianjurkan, di antaranya adalah terapi penunjang, terapi simptomatik da terapi hipotermia.

Mengenal Sindrom Putri Duyung, Cacat Lahir Langka pada Bayi

Mengenal Sindrom Putri Duyung, Cacat Lahir Langka pada Bayi

Sindrom putri duyung merupakan cacat lahir yang tergolong langka. Ciri-ciri utamanya adalah bagian kaki yang menyatu dari pada hingga ke tumit, persis seperti putri duyung.

Penyakit yang memiliki nama lain sirenomelia ini juga dapat mempengaruhi fungsi sistem organ lainnya, seperti gagal ginjal dan saluran kemih. Biasanya bayi yang lahir dengan mermaid syndrome ini tidak memiliki tulang ekor dan sakrum.

Pengaruh cacat ini juga bisa berdampak pada komplikasi paru-paru dan juga jantung.

Penyebab Sindrom Putri Duyung

Hingga kini, penyebab pasti sindrom putri duyung ini tidak diketahui pasti. Namun, peneliti meyakini bahwa lingkungan dan faktor genetik mempengaruhi kondisi ini.

Sindrom putri duyung biasanya sering terjadi pada bayi laki-laki dibanding perempuan. Namun, kemungkinan terjadinya penyakit ini sekitar 1 : 60.000-100.000 kelahiran. Sirenomelia juga 100-150 kali lebih rentan terjadi pada bayi yang lahir kembar identik dibanding kembar non identik atau hamil tunggal.

Cacat bawaan ini terjadi secara acak dan mengindikasikan adanya mutasi genetik. Bisa saja bayi yang mengalami sirenomelia karena salah satu orangtuanya carrier penyakit mermaid syndrome ini. Apalagi jika faktor lingkungan yang juga mempengaruhinya. Pada beberapa kasus, sirenomelia ini dikarenakan perkembangan sistem sirkulasi darah yang tidak optimal pada embrio. Sehingga aliran darah tidak tersalurkan dengan cukup hingga ke plasenta. Sehingga aliran nutrisi tidak menjangkau hingga ke bagian kaki dan membuatnya tidak berkembang maksimal. Ada juga yang menyebut sirenomelia ini berkaitan erat dengan diabetes yang terjadi pada ibu hamil (diabetes pre-gestasional).

Gejala Bayi Lahir dengan Sindrom Putri Duyung

Jenis cacat sirenomelia yang terjadi pada satu individu dengan yang lainnya berbeda. Biasanya, di tahun pertama kehidupan anak yang terlahir dengan sindrom putri duyung cukup berisiko mengancam nyawa.

Berikut gejala-gejala dari mermaid syndrome ini.

  • Sebagian atau kedua kaki menyatu dari paha hingga bagian tumit
  • Arah kaki mungkin saja terbalik, bagian belakang kaki ke depan
  • Terjadi kelainan pada tulang paha panjang
  • Lordosis
  • Tidak memiliki ginjal
  • Alat kelamin bayi tidak terdeteksi
  • Rektum gagal berkembang
  • Tidak memiliki lubang anus
  • Bagian usus menonjol hingga ke dekat pusar
  • Mengalami cacat jantung bawaan
  • Komplikasi pernapasan seperti hipoplasia paru
  • Tidak memiliki limpa dan atau kantong empedu

Bayi yang terlahir dengan sindrom putri duyung sebagian besar tidak bisa bertahan hidup lama. Biasanya bertahan dalam rentang usia 24 – 48 jam setelah dilahirkan ke dunia.

Hanya ada satu kasus yang dengan sindrom putri duyung yang bertahan hidup hingga 27 tahun. Dia adalah Tiffany York, yang disebut sebagai orang dengan mermaid syndrome paling lama bertahan hidup.

Tiffany York hidup dengan tulang kaki yang sangat rapuh. Sepanjang hidupnya membuat Tiffany membutuhkan tongkat dan kursi roda. Dia juga sempat menjalani beberapa kali operasi.

Dan pada 2016 lalu, salah satu orang dengan sindrom putri duyung ini meninggal dunia. Diduga Tiffany meninggal akibat komplikasi karena sirenomelia ini.

Penting Melakukan Pemeriksaan Antenatal

Saat menjalani masa kehamilan, penting bagi ibu untuk melakukan pemeriksaan USG agar bisa segera mendeteksi jika janin mengalami cacat bawaan.

Antenatal care penting sekali dilakukan semasa kehamilan karena sirenomelia sudah bisa didiagnosis sejak trimester kedua ketika terdeteksi ada perkembangan pada janin yang tidak optimal, terutama di bagian kaki.

Sehingga, dokter spesialis bisa segera membentuk tim dengan dokter spesialis kandungan untuk menentukan langkah dan rencana penanganan. Biasanya kedua kaki pada penderita sindrom putri duyung cukup efektif dipisahkan dengan operasi.

Mengenal Hepatitis Alkoholik, Penyakit yang Rentan Dialami Pecandu Alkohol

Mengenal Hepatitis Alkoholik, Penyakit yang Rentan Dialami Pecandu Alkohol

Kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol dalam waktu lama dan berlebihan dapat menyebabkan terjadinya peradangan hati atau dikenal dengan istilah hepatitis alkoholik. Alkohol yang diproses di hati akan menghasilkan zat kimia beracun yang dapat melukai hati dan membuat peradangan.

Bukan berarti semua peminum berat pasti menderita hepatitis alkoholik ini, karena orang yang minum secukupnya saja juga bisa terkena peradangan hati.

Gejala Mengalami Hepatitis Alkoholik

Penderita hepatitis alkoholik ini akan mengalami gejala utama yang paling terlihat adalah mata dan kulit menjadi kuning. Sebenarnya gejala yang muncul tergantung pada kerusakan organ hati yang dialami. Berikut beberapa gejala lain yang juga muncul, yakni:

  • Mulut terasa kering
  • Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun
  • Perut terasa nyeri
  • Mual dan muntah
  • Mudah lelah dan letih
  • Demam dengan suhu tidak terlalu tinggi atau subfebris
  • Malnutrisi
  • Mudah mengalami pembengkakan dan perdarahan

Pada kasus yang lebih serius, gejala yang muncul bisa berupa gagal ginjal dan hati, perut membesar karena menumpukan cairan dalam rongga perut, hingga perubahan perilaku akibat penumpukan toksin di hati.

Penyebab Hepatitis Alkoholik

Hepatitis alkoholik ini disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Namun, belum diketahui apa penyebab tidak semua pecandu alkohol terserang penyakit ini. Berikut beberapa penyebab lain seseorang dapat mengidap penyakit ini, yaitu:

  • Adanya penumpukan lemak di tubuh
  • Kekurangan nutrisi (malnutrisi) karena alkohol membatasi pemecahan protein, penyerapan nutrisi, lemak tak jenuh, dan vitamin. Sehingga malnutrisi ini dapat menyebabkan kerusakan sel hati.
  • Memeiliki semua jenis hepatitis, terlebih hepatitis C dan kecanduan alkohol yang meningkatkan risiko terjangkit sirosis.
  • Adanya mutasi gen tertentu yang dapat mempengaruhi metabolisme alkohol dan meningkatkan risiko penyakit hati, kanker, dan komplikasi akibat alkohol.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Terkena Hepatitis Alkoholik

Faktor utama yang dapat meningkatkan. risiko seseorang terkena hepatitis alkoholik adalah sebagai berikut:

  • Konsumsi Alkohol

Faktor pemicu utama seseorang terjangkit hepatitis alkoholik adalah konsumsi minuman beralkohol. Seseorang berisiko terjangkit sirosis saat mengkonsumsi alkohol lebih dari 60-80 ml per hari selama lebih dari 10 tahun.

  • Faktor Genetik

Proses penguraian alkohol di dalam tubuh juga dipengaruhi oleh mutasi genetik. Terjadinya mutasi genetik dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit lain.

  • Jenis Kelamin

Penyakit hepatitis alkoholik rentan terjadi pada wanita dibanding pria. Hal ini dikarenakan proses pencernaan alkohol berbeda antara pria dan wanita.

  • Obesitas

Konsumsi alkohol dan memiliki berat tubuh yang berlebihan dapat mempengaruhi hati. Kombinasi keduanya akan menyebabkan penyakit semakin fatal.

  • Tipe Minuman yang Dikonsumsi

Ternyata bir atau minuman beralkohol lebih berbahaya dibanding wine.

Pengobatan Hepatitis Alkoholik

Cara yang paling utama untuk mengobati hepatitis alkoholik adalah dengan berhenti minum alkohol.

Hingga sekarang, penyakit ini belum ditemukan obatnya. Pengobatan yang dilakukan hanya sebatas menghilangkan gejala dan menghentikan agar penyakit tidak berkembang menjadi lebih parah.

Berikut pilihan pengobatan yang dapat dilakukan.

  • Perubahan diet

Bagi penderita penyakit hepatitis alkoholik ini, dokter akan menyarankan untuk merubah diet. Rencana diet ini akan membantu memperbaiki keseimbangan nutrisi dalam tubuh ketika terjadi kekurangan gizi setelah hepatitis alkoholik ini.

  • Transplantasi hati

Transplantasi hati mungkin dilakukan pada kasus yang sudah parah. Hal ini dilakukan agar penderita dapat bertahan hidup. Hanya saja akan butuh waktu lama untuk menemukan donor hati dan proses yang dilalui pun cukup rumit.

  • Obat-obatan

Dokter juga bisa merekomendasikan berbagai jenis obat-obatan untuk mengurangi peradangan hati atau hepatitis alkoholik.

Sering Alami Halusinasi Penciuman? Penyakit Ini Penyebabnya

Pernahkah Anda merasa seperti mencium bau ban terbakar ataupun merokok, tapi sebenarnya tidak ada sumber bau-bau tersebut di sekitar Anda? Jika pernah, artinya Anda tengah mengalami phantosmia. Phantosmia merupakan kondisi saat Anda mengalami halusinasi penciuman yang berakibat pada perasaan mencium beberapa bau tertentu yang sebenarnya tidak ada.

Kondisi halusinasi penciuman umumnya terjadi ketika tubuh Anda hendak memberitahukan kondisi kesehatan yang tengah Anda alami. Pasalnya, sinyal kesehatan beberapa orang memang lemah. Kerap suatu penyakit tidak disadari oleh penderitanya. Pada saat itulah, tubuh seakan memberi alarm lewat berbagai cara. Salah satunya dengan phantosmia.

Karena itulah ketika mengalami halusinasi penciuman, jangan pandang remeh. Bisa jadi penyakit-penyakit di bawah ini yang menjadi penyebabnya!

  1. Sinusitis

Munculnya peradangan atau pembengkakan di area rongga sinus bisa memicu timbulnya halusinasi penciuman bagi Anda. Kondisi ini tidak mengherankan sebab sinusitis akan sangat berpengaruh pada indra penciuman Anda. Melakukan terapi sinusitis, seperti mencuci hidung dengan air garam ataupun minum air putih lebih banyak, sekaligus bisa menghilangkan gejala phantosmia yang Anda alami.

  • Polip Hidung

Masih berhubungan dengan indra penciuman, adanya polip hidung juga dapat menjadi penyebab Anda mengalami halusinasi penciuman. Polip hidup sendiri merupakan kondisi tumbuhan jaringan daging yang menggantung di bagian dalam hidung. Dalam tahap parah, polip hidung sendiri sebenarnya membuat Anda sulit mencium bau dengan baik.

  • Stroke

Penyakit yang disebabkan oleh tersumbat atau pecahnya pembuluh darah di otak ini amat rentan menimbulkan phantosmia. Ini karena otak pada penderita stroke tidak mampu menerima sinyal bau secara baik. Adanya kerusakan di pembuluh darah otak akan mengganggu kinerja otak dalam menganalisis bau yang diterima oleh saluran pernapasan. Karena itu, penderita stroke umumnya kerap tidak mencium bau yang ada atau sebaliknya mengalami halusinasi penciuman terhadap bau-bau yang sebenarnya tidak ada.

  • Epilepsi

Epilepsi merupakan merupakan kondisi saat sistem saraf pusat atau otak mengalami kejang sehingga kinerjanya menjadi terganggu. Penderita epilepsi umumnya akan mengalami gejala tangan yang mendadak lunglai ataupun tatapan yang tiba-tiba kosong. Namun, ditemukan pula gejala munculnya halusinasi penciuman sebelum penderita terserang kejang akibat epilepsi.

  • Alergi

Alergi tidak selalu membuat Anda merasa gatal-gatal atau masalah kulit lainnya. Alergi bahkan bisa tidak disadari, namun langsung berakibat pada timbulnya peradangan di berbagai area tubuh, termasuk pula otak. Jika alergi tersebut menyerang bagian kepala dan juga otak, halusinasi penciuman kerap menjadi gejala awal yang mesti Anda waspadai.

  • Masalah Gigi

Rasanya memang kurang masuk akal ketika phantosmia yang Anda alami merupakan alarm tubuh yang hendak mengisyaratkan adanya masalah pada gigi Anda. Akan tetapi pada kenyataannya, berbagai masalah gigi kerap menghadirkan sensasi bau-bauan yang sebenarnya tidak ada di sekeliling Anda. Jadi ketika tiba-tiba mencium bau yang tidak ada, cobalah lakukan pemeriksaan gigi ke dokter.

  • Skizofrenia

Skizofrenia merupakan salah satu masalah kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami berbagai halusinasi dan kekacauan pikiran yang berdampak pada berubahnya perilaku. Halusinasi yang dialami oleh penderita skizofrenia bukan hanya berupa gambaran kegiatan, tetapi juga berupa halusinasi penciuman yang dikenal dengan istilah phantosmia.

Jangan pandang remeh keanehan apapun yang Anda alami, walaupun sekadar halusinasi penciuman. Sebab pada kenyataannya, hal yang diremehkan tersebut bisa menjadi penanda tubuh Anda tengah mencoba memberitahukan adanya penyakit yang Anda idap. Melakukan pengecekan kesehatan secara menyeluruh secara rutin bisa menjadi jalan keluar untuk memahami dengan baik kondisi apa yang sedang dirasakan oleh tubuh Anda.

Mengenal Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2

diabetes militus tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi kesehatan

Diabetes merupakan salah satu kondisi kesehatan yang banyak dijumpai di seluruh dunia, dengan 8,5 persen populasi manusia hidup dengan kondisi ini. Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes yang mungkin paling sering Anda dengar. Penelitian yang terus dilakukan selama beberapa tahun belakangan ini telah meningkatkan diagnosa, perawatan, dan pengetahuan tentang diabetes melitus tipe 2. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja tentang kondisi ini yang perlu Anda ketahui. 

Kondisi kronis dan saat ini tidak ada obatnya

Diabetes melitus tipe 2 merupakan sebuah kondisi ketika tubuh memiliki masalah dalam mengatur kadar gula darah. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan tubuh dalam membuat atau menggunakan insulin, sebuah hormon yang mengatur gula darah; baik karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin, atau sel-sel tubuh menjadi resisten dan tidak dapat menggunakan insulin untuk metabolisme glukosa. Sebagai hasil dari resistensi selular, banyak sel-sel yang ada di dalam tubuh Anda tidak mampu mendapatkan energi yang mereka butuhkan untuk berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan. Diabetes merupakan sebuah kondisi yang kronis, dan akan terus ada dalam waktu yang sangat lama. Saat ini, penyakit ini tidak memiliki obat. 

Jumlah penderita terus bertambah, terutama pada remaja

Jumlah orang yang menderita diabetes di seluruh dunia terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 1980, penderita diabetes mencapai 108 juta. Kini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ada lebih dari 422 juta di seluruh dunia, dengan diabetes militus tipe 2 menjadi jenis yang paling banyak dijumpai. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kasus diabetes militus tipe 2 dulunya hanya terlihat pada orang-orang dewasa saja. Namun, kini banyak anak muda dan remaja yang didiagnosa menderita penyakit ini. Ini disebabkan karena diabetes militus tipe 2 dihubungkan karena indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi dan obesitas, sebuah kondisi yang kini semakin umum dijumpai diderita oleh para remaja saat ini. 

Dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun

Banyak kasus diabetes militus tipe 2 tidak terdiagnosa karena kurangnya gejala yang timbul serta karena orang tidak menyadari gejala yang dimiliki disebabkan karena diabetes. Penyebab gejala seperti kelelahan, rasa lapar yang meningkat, dan mudah haus terkadang sulit untuk diketahui. Gejala-gejala tersebut juga berkembang setelah beberapa tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk rutin memeriksakan diri. Mereka yang berusia 45 ke atas perlu mendapatkan tes diabetes, terutama apabila memiliki berat badan berlebih. Apabila Anda gemuk dan berusia di bawah 45 tahun, Anda bisa mendapatkan tes yang serupa, mengingat obesitas dan berat badan berlebih merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2. 

Dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius

Apabila dibiarkan tidak terdiagnosa dan tidak dirawat, diabetes militus tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang dapat mengancam nyawa. Penyakit kardiovaskular, penyakit mata diabetes, penyakit ginjal, kerusakan saraf, gangguan pendengaran, serta meningkatnya risiko stroke dan penyakit Alzheimer merupakan jenis-jenis komplikasi yang bisa Anda miliki apabila

tidak dirawat. Guna mengurangi risiko-risiko tersebut, menjaga kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah merupakan hal yang sangat penting. Deteksi dan perawatan dini, gaya hidup yang sehat (misalnya tidak mengonsumsi alkohol dan hindari merokok atau berada di dekat orang yang aktif merokok), dan pemeriksaan teratur merupakan kunci penting dalam mencegah komplikasi diabetes militus tipe 2.

Mengenal Trakhoma, Infeksi Mata Yang Tidak Biasa

Mengapa Mata Harus Dilindungi Dari Asap? | KABAR

Trakhoma adalah infeksi mata yang menyerang kedua mata Anda. Trakhoma merupakan penyebab utama kebutaan menular di dunia, yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Chlamydia trachomatis.

Trakhoma menular dan menyebar melalui kontak dengan mata, kelopak mata, dan sekresi hidung atau tenggorokan orang yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat ditularkan dengan menangani barang yang terinfeksi, seperti sapu tangan.

Pada awalnya, trakhoma dapat menyebabkan gatal ringan dan iritasi pada mata dan kelopak mata Anda. Kemudian Anda mungkin melihat kelopak mata bengkak dan nanah mengalir dari mata. Gejala awal mulai muncul dalam lima hingga 12 hari setelah terpapar bakteri. 

Ketika infeksi berlanjut, hal itu akan menyebabkan sakit mata dan penglihatan kabur. Jika infeksi tidak diobati, jaringan parut terjadi di dalam kelopak mata Anda dan mengarah ke bulu mata yang mengarah ke dalam ke arah mata. Kondisi ini disebut trichiasis, dimana bulu mata menyikat dan menggaruk kornea, jendela bening berbentuk kubah di bagian depan mata Anda. Iritasi yang terus menerus ini membuat kornea menjadi keruh, sehingga dapat menyebabkan perkembangan ulkus kornea dan kehilangan penglihatan.

Berikut faktor-faktor yang meningkatkan resiko Anda terkena trakhoma:

  • Kemiskinan: Trachoma terutama merupakan penyakit populasi yang sangat miskin di negara-negara berkembang.
  • Kondisi kehidupan yang ramai: Orang yang hidup dalam kontak dekat memiliki resiko lebih besar untuk menyebarkan infeksi.
  • Sanitasi yang buruk: Kondisi sanitasi yang buruk dan kurangnya kebersihan, seperti wajah atau tangan yang tidak bersih, membantu menyebarkan penyakit ini
  • Usia: Di daerah dimana penyakit ini aktif, kondisi ini paling umum terjadi pada anak-anak usia 4 hingga 6 tahun.
  • Seks: Di beberapa daerah, tingkat wanita tertular penyakit ini dua hingga enam kali lebih tinggi daripada pria.
  • Lalat: Orang yang tinggal di daerah dengan masalah mengendalikan populasi lalat mungkin lebih rentan terhadap infeksi trachoma.
  • Kekurangan jamban: Populasi yang tidak memiliki akses ke jamban kerja, sejenis toilet umum, memiliki insiden penyakit yang lebih tinggi.

Sayangnya, tidak ada vaksin trakhoma yang tersedia, tetapi pencegahan mungkin dilakukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengembangkan strategi untuk mencegah trakhoma, dengan tujuan menghilangkannya pada tahun 2020. Strategi tersebut ada SAFE, melibatkan:

  • Surgery: Pembedahan untuk mengobati bentuk trakhoma lanjut
  • Antibiotik: Antibiotik untuk mengobati dan mencegah infeksi
  • Facial: Kebersihan wajah
  • Environmental: Perbaikan lingkungan, terutama dalam air, sanitasi dan pengendalian lalat

Anda disarankan untuk segera menghubungi dokter jika Anda atau anak Anda memiliki mata yang gatal atau iritasi atau keluar dari mata, terutama jika Anda tinggal di atau baru-baru ini bepergian ke daerah di mana trakhoma biasa terjadi. Trakhoma adalah kondisi menular, mengobati dan merawatnya sesegera mungkin membantu mencegah infeksi lebih lanjut.