Mengenal Sindrom Putri Duyung, Cacat Lahir Langka pada Bayi

Mengenal Sindrom Putri Duyung, Cacat Lahir Langka pada Bayi

Sindrom putri duyung merupakan cacat lahir yang tergolong langka. Ciri-ciri utamanya adalah bagian kaki yang menyatu dari pada hingga ke tumit, persis seperti putri duyung.

Penyakit yang memiliki nama lain sirenomelia ini juga dapat mempengaruhi fungsi sistem organ lainnya, seperti gagal ginjal dan saluran kemih. Biasanya bayi yang lahir dengan mermaid syndrome ini tidak memiliki tulang ekor dan sakrum.

Pengaruh cacat ini juga bisa berdampak pada komplikasi paru-paru dan juga jantung.

Penyebab Sindrom Putri Duyung

Hingga kini, penyebab pasti sindrom putri duyung ini tidak diketahui pasti. Namun, peneliti meyakini bahwa lingkungan dan faktor genetik mempengaruhi kondisi ini.

Sindrom putri duyung biasanya sering terjadi pada bayi laki-laki dibanding perempuan. Namun, kemungkinan terjadinya penyakit ini sekitar 1 : 60.000-100.000 kelahiran. Sirenomelia juga 100-150 kali lebih rentan terjadi pada bayi yang lahir kembar identik dibanding kembar non identik atau hamil tunggal.

Cacat bawaan ini terjadi secara acak dan mengindikasikan adanya mutasi genetik. Bisa saja bayi yang mengalami sirenomelia karena salah satu orangtuanya carrier penyakit mermaid syndrome ini. Apalagi jika faktor lingkungan yang juga mempengaruhinya. Pada beberapa kasus, sirenomelia ini dikarenakan perkembangan sistem sirkulasi darah yang tidak optimal pada embrio. Sehingga aliran darah tidak tersalurkan dengan cukup hingga ke plasenta. Sehingga aliran nutrisi tidak menjangkau hingga ke bagian kaki dan membuatnya tidak berkembang maksimal. Ada juga yang menyebut sirenomelia ini berkaitan erat dengan diabetes yang terjadi pada ibu hamil (diabetes pre-gestasional).

Gejala Bayi Lahir dengan Sindrom Putri Duyung

Jenis cacat sirenomelia yang terjadi pada satu individu dengan yang lainnya berbeda. Biasanya, di tahun pertama kehidupan anak yang terlahir dengan sindrom putri duyung cukup berisiko mengancam nyawa.

Berikut gejala-gejala dari mermaid syndrome ini.

  • Sebagian atau kedua kaki menyatu dari paha hingga bagian tumit
  • Arah kaki mungkin saja terbalik, bagian belakang kaki ke depan
  • Terjadi kelainan pada tulang paha panjang
  • Lordosis
  • Tidak memiliki ginjal
  • Alat kelamin bayi tidak terdeteksi
  • Rektum gagal berkembang
  • Tidak memiliki lubang anus
  • Bagian usus menonjol hingga ke dekat pusar
  • Mengalami cacat jantung bawaan
  • Komplikasi pernapasan seperti hipoplasia paru
  • Tidak memiliki limpa dan atau kantong empedu

Bayi yang terlahir dengan sindrom putri duyung sebagian besar tidak bisa bertahan hidup lama. Biasanya bertahan dalam rentang usia 24 – 48 jam setelah dilahirkan ke dunia.

Hanya ada satu kasus yang dengan sindrom putri duyung yang bertahan hidup hingga 27 tahun. Dia adalah Tiffany York, yang disebut sebagai orang dengan mermaid syndrome paling lama bertahan hidup.

Tiffany York hidup dengan tulang kaki yang sangat rapuh. Sepanjang hidupnya membuat Tiffany membutuhkan tongkat dan kursi roda. Dia juga sempat menjalani beberapa kali operasi.

Dan pada 2016 lalu, salah satu orang dengan sindrom putri duyung ini meninggal dunia. Diduga Tiffany meninggal akibat komplikasi karena sirenomelia ini.

Penting Melakukan Pemeriksaan Antenatal

Saat menjalani masa kehamilan, penting bagi ibu untuk melakukan pemeriksaan USG agar bisa segera mendeteksi jika janin mengalami cacat bawaan.

Antenatal care penting sekali dilakukan semasa kehamilan karena sirenomelia sudah bisa didiagnosis sejak trimester kedua ketika terdeteksi ada perkembangan pada janin yang tidak optimal, terutama di bagian kaki.

Sehingga, dokter spesialis bisa segera membentuk tim dengan dokter spesialis kandungan untuk menentukan langkah dan rencana penanganan. Biasanya kedua kaki pada penderita sindrom putri duyung cukup efektif dipisahkan dengan operasi.

Mengenal Hepatitis Alkoholik, Penyakit yang Rentan Dialami Pecandu Alkohol

Mengenal Hepatitis Alkoholik, Penyakit yang Rentan Dialami Pecandu Alkohol

Kebiasaan mengkonsumsi minuman beralkohol dalam waktu lama dan berlebihan dapat menyebabkan terjadinya peradangan hati atau dikenal dengan istilah hepatitis alkoholik. Alkohol yang diproses di hati akan menghasilkan zat kimia beracun yang dapat melukai hati dan membuat peradangan.

Bukan berarti semua peminum berat pasti menderita hepatitis alkoholik ini, karena orang yang minum secukupnya saja juga bisa terkena peradangan hati.

Gejala Mengalami Hepatitis Alkoholik

Penderita hepatitis alkoholik ini akan mengalami gejala utama yang paling terlihat adalah mata dan kulit menjadi kuning. Sebenarnya gejala yang muncul tergantung pada kerusakan organ hati yang dialami. Berikut beberapa gejala lain yang juga muncul, yakni:

  • Mulut terasa kering
  • Nafsu makan berkurang dan berat badan menurun
  • Perut terasa nyeri
  • Mual dan muntah
  • Mudah lelah dan letih
  • Demam dengan suhu tidak terlalu tinggi atau subfebris
  • Malnutrisi
  • Mudah mengalami pembengkakan dan perdarahan

Pada kasus yang lebih serius, gejala yang muncul bisa berupa gagal ginjal dan hati, perut membesar karena menumpukan cairan dalam rongga perut, hingga perubahan perilaku akibat penumpukan toksin di hati.

Penyebab Hepatitis Alkoholik

Hepatitis alkoholik ini disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Namun, belum diketahui apa penyebab tidak semua pecandu alkohol terserang penyakit ini. Berikut beberapa penyebab lain seseorang dapat mengidap penyakit ini, yaitu:

  • Adanya penumpukan lemak di tubuh
  • Kekurangan nutrisi (malnutrisi) karena alkohol membatasi pemecahan protein, penyerapan nutrisi, lemak tak jenuh, dan vitamin. Sehingga malnutrisi ini dapat menyebabkan kerusakan sel hati.
  • Memeiliki semua jenis hepatitis, terlebih hepatitis C dan kecanduan alkohol yang meningkatkan risiko terjangkit sirosis.
  • Adanya mutasi gen tertentu yang dapat mempengaruhi metabolisme alkohol dan meningkatkan risiko penyakit hati, kanker, dan komplikasi akibat alkohol.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Terkena Hepatitis Alkoholik

Faktor utama yang dapat meningkatkan. risiko seseorang terkena hepatitis alkoholik adalah sebagai berikut:

  • Konsumsi Alkohol

Faktor pemicu utama seseorang terjangkit hepatitis alkoholik adalah konsumsi minuman beralkohol. Seseorang berisiko terjangkit sirosis saat mengkonsumsi alkohol lebih dari 60-80 ml per hari selama lebih dari 10 tahun.

  • Faktor Genetik

Proses penguraian alkohol di dalam tubuh juga dipengaruhi oleh mutasi genetik. Terjadinya mutasi genetik dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit lain.

  • Jenis Kelamin

Penyakit hepatitis alkoholik rentan terjadi pada wanita dibanding pria. Hal ini dikarenakan proses pencernaan alkohol berbeda antara pria dan wanita.

  • Obesitas

Konsumsi alkohol dan memiliki berat tubuh yang berlebihan dapat mempengaruhi hati. Kombinasi keduanya akan menyebabkan penyakit semakin fatal.

  • Tipe Minuman yang Dikonsumsi

Ternyata bir atau minuman beralkohol lebih berbahaya dibanding wine.

Pengobatan Hepatitis Alkoholik

Cara yang paling utama untuk mengobati hepatitis alkoholik adalah dengan berhenti minum alkohol.

Hingga sekarang, penyakit ini belum ditemukan obatnya. Pengobatan yang dilakukan hanya sebatas menghilangkan gejala dan menghentikan agar penyakit tidak berkembang menjadi lebih parah.

Berikut pilihan pengobatan yang dapat dilakukan.

  • Perubahan diet

Bagi penderita penyakit hepatitis alkoholik ini, dokter akan menyarankan untuk merubah diet. Rencana diet ini akan membantu memperbaiki keseimbangan nutrisi dalam tubuh ketika terjadi kekurangan gizi setelah hepatitis alkoholik ini.

  • Transplantasi hati

Transplantasi hati mungkin dilakukan pada kasus yang sudah parah. Hal ini dilakukan agar penderita dapat bertahan hidup. Hanya saja akan butuh waktu lama untuk menemukan donor hati dan proses yang dilalui pun cukup rumit.

  • Obat-obatan

Dokter juga bisa merekomendasikan berbagai jenis obat-obatan untuk mengurangi peradangan hati atau hepatitis alkoholik.

Sering Alami Halusinasi Penciuman? Penyakit Ini Penyebabnya

Pernahkah Anda merasa seperti mencium bau ban terbakar ataupun merokok, tapi sebenarnya tidak ada sumber bau-bau tersebut di sekitar Anda? Jika pernah, artinya Anda tengah mengalami phantosmia. Phantosmia merupakan kondisi saat Anda mengalami halusinasi penciuman yang berakibat pada perasaan mencium beberapa bau tertentu yang sebenarnya tidak ada.

Kondisi halusinasi penciuman umumnya terjadi ketika tubuh Anda hendak memberitahukan kondisi kesehatan yang tengah Anda alami. Pasalnya, sinyal kesehatan beberapa orang memang lemah. Kerap suatu penyakit tidak disadari oleh penderitanya. Pada saat itulah, tubuh seakan memberi alarm lewat berbagai cara. Salah satunya dengan phantosmia.

Karena itulah ketika mengalami halusinasi penciuman, jangan pandang remeh. Bisa jadi penyakit-penyakit di bawah ini yang menjadi penyebabnya!

  1. Sinusitis

Munculnya peradangan atau pembengkakan di area rongga sinus bisa memicu timbulnya halusinasi penciuman bagi Anda. Kondisi ini tidak mengherankan sebab sinusitis akan sangat berpengaruh pada indra penciuman Anda. Melakukan terapi sinusitis, seperti mencuci hidung dengan air garam ataupun minum air putih lebih banyak, sekaligus bisa menghilangkan gejala phantosmia yang Anda alami.

  • Polip Hidung

Masih berhubungan dengan indra penciuman, adanya polip hidung juga dapat menjadi penyebab Anda mengalami halusinasi penciuman. Polip hidup sendiri merupakan kondisi tumbuhan jaringan daging yang menggantung di bagian dalam hidung. Dalam tahap parah, polip hidung sendiri sebenarnya membuat Anda sulit mencium bau dengan baik.

  • Stroke

Penyakit yang disebabkan oleh tersumbat atau pecahnya pembuluh darah di otak ini amat rentan menimbulkan phantosmia. Ini karena otak pada penderita stroke tidak mampu menerima sinyal bau secara baik. Adanya kerusakan di pembuluh darah otak akan mengganggu kinerja otak dalam menganalisis bau yang diterima oleh saluran pernapasan. Karena itu, penderita stroke umumnya kerap tidak mencium bau yang ada atau sebaliknya mengalami halusinasi penciuman terhadap bau-bau yang sebenarnya tidak ada.

  • Epilepsi

Epilepsi merupakan merupakan kondisi saat sistem saraf pusat atau otak mengalami kejang sehingga kinerjanya menjadi terganggu. Penderita epilepsi umumnya akan mengalami gejala tangan yang mendadak lunglai ataupun tatapan yang tiba-tiba kosong. Namun, ditemukan pula gejala munculnya halusinasi penciuman sebelum penderita terserang kejang akibat epilepsi.

  • Alergi

Alergi tidak selalu membuat Anda merasa gatal-gatal atau masalah kulit lainnya. Alergi bahkan bisa tidak disadari, namun langsung berakibat pada timbulnya peradangan di berbagai area tubuh, termasuk pula otak. Jika alergi tersebut menyerang bagian kepala dan juga otak, halusinasi penciuman kerap menjadi gejala awal yang mesti Anda waspadai.

  • Masalah Gigi

Rasanya memang kurang masuk akal ketika phantosmia yang Anda alami merupakan alarm tubuh yang hendak mengisyaratkan adanya masalah pada gigi Anda. Akan tetapi pada kenyataannya, berbagai masalah gigi kerap menghadirkan sensasi bau-bauan yang sebenarnya tidak ada di sekeliling Anda. Jadi ketika tiba-tiba mencium bau yang tidak ada, cobalah lakukan pemeriksaan gigi ke dokter.

  • Skizofrenia

Skizofrenia merupakan salah satu masalah kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami berbagai halusinasi dan kekacauan pikiran yang berdampak pada berubahnya perilaku. Halusinasi yang dialami oleh penderita skizofrenia bukan hanya berupa gambaran kegiatan, tetapi juga berupa halusinasi penciuman yang dikenal dengan istilah phantosmia.

Jangan pandang remeh keanehan apapun yang Anda alami, walaupun sekadar halusinasi penciuman. Sebab pada kenyataannya, hal yang diremehkan tersebut bisa menjadi penanda tubuh Anda tengah mencoba memberitahukan adanya penyakit yang Anda idap. Melakukan pengecekan kesehatan secara menyeluruh secara rutin bisa menjadi jalan keluar untuk memahami dengan baik kondisi apa yang sedang dirasakan oleh tubuh Anda.

Mengenal Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2

diabetes militus tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi kesehatan

Diabetes merupakan salah satu kondisi kesehatan yang banyak dijumpai di seluruh dunia, dengan 8,5 persen populasi manusia hidup dengan kondisi ini. Diabetes melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes yang mungkin paling sering Anda dengar. Penelitian yang terus dilakukan selama beberapa tahun belakangan ini telah meningkatkan diagnosa, perawatan, dan pengetahuan tentang diabetes melitus tipe 2. Artikel ini akan membahas hal-hal apa saja tentang kondisi ini yang perlu Anda ketahui. 

Kondisi kronis dan saat ini tidak ada obatnya

Diabetes melitus tipe 2 merupakan sebuah kondisi ketika tubuh memiliki masalah dalam mengatur kadar gula darah. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan tubuh dalam membuat atau menggunakan insulin, sebuah hormon yang mengatur gula darah; baik karena tubuh tidak mampu memproduksi cukup insulin, atau sel-sel tubuh menjadi resisten dan tidak dapat menggunakan insulin untuk metabolisme glukosa. Sebagai hasil dari resistensi selular, banyak sel-sel yang ada di dalam tubuh Anda tidak mampu mendapatkan energi yang mereka butuhkan untuk berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan. Diabetes merupakan sebuah kondisi yang kronis, dan akan terus ada dalam waktu yang sangat lama. Saat ini, penyakit ini tidak memiliki obat. 

Jumlah penderita terus bertambah, terutama pada remaja

Jumlah orang yang menderita diabetes di seluruh dunia terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 1980, penderita diabetes mencapai 108 juta. Kini, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ada lebih dari 422 juta di seluruh dunia, dengan diabetes militus tipe 2 menjadi jenis yang paling banyak dijumpai. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kasus diabetes militus tipe 2 dulunya hanya terlihat pada orang-orang dewasa saja. Namun, kini banyak anak muda dan remaja yang didiagnosa menderita penyakit ini. Ini disebabkan karena diabetes militus tipe 2 dihubungkan karena indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi dan obesitas, sebuah kondisi yang kini semakin umum dijumpai diderita oleh para remaja saat ini. 

Dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun

Banyak kasus diabetes militus tipe 2 tidak terdiagnosa karena kurangnya gejala yang timbul serta karena orang tidak menyadari gejala yang dimiliki disebabkan karena diabetes. Penyebab gejala seperti kelelahan, rasa lapar yang meningkat, dan mudah haus terkadang sulit untuk diketahui. Gejala-gejala tersebut juga berkembang setelah beberapa tahun. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk rutin memeriksakan diri. Mereka yang berusia 45 ke atas perlu mendapatkan tes diabetes, terutama apabila memiliki berat badan berlebih. Apabila Anda gemuk dan berusia di bawah 45 tahun, Anda bisa mendapatkan tes yang serupa, mengingat obesitas dan berat badan berlebih merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2. 

Dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius

Apabila dibiarkan tidak terdiagnosa dan tidak dirawat, diabetes militus tipe 2 dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang dapat mengancam nyawa. Penyakit kardiovaskular, penyakit mata diabetes, penyakit ginjal, kerusakan saraf, gangguan pendengaran, serta meningkatnya risiko stroke dan penyakit Alzheimer merupakan jenis-jenis komplikasi yang bisa Anda miliki apabila

tidak dirawat. Guna mengurangi risiko-risiko tersebut, menjaga kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah merupakan hal yang sangat penting. Deteksi dan perawatan dini, gaya hidup yang sehat (misalnya tidak mengonsumsi alkohol dan hindari merokok atau berada di dekat orang yang aktif merokok), dan pemeriksaan teratur merupakan kunci penting dalam mencegah komplikasi diabetes militus tipe 2.

Mengenal Trakhoma, Infeksi Mata Yang Tidak Biasa

Mengapa Mata Harus Dilindungi Dari Asap? | KABAR

Trakhoma adalah infeksi mata yang menyerang kedua mata Anda. Trakhoma merupakan penyebab utama kebutaan menular di dunia, yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Chlamydia trachomatis.

Trakhoma menular dan menyebar melalui kontak dengan mata, kelopak mata, dan sekresi hidung atau tenggorokan orang yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat ditularkan dengan menangani barang yang terinfeksi, seperti sapu tangan.

Pada awalnya, trakhoma dapat menyebabkan gatal ringan dan iritasi pada mata dan kelopak mata Anda. Kemudian Anda mungkin melihat kelopak mata bengkak dan nanah mengalir dari mata. Gejala awal mulai muncul dalam lima hingga 12 hari setelah terpapar bakteri. 

Ketika infeksi berlanjut, hal itu akan menyebabkan sakit mata dan penglihatan kabur. Jika infeksi tidak diobati, jaringan parut terjadi di dalam kelopak mata Anda dan mengarah ke bulu mata yang mengarah ke dalam ke arah mata. Kondisi ini disebut trichiasis, dimana bulu mata menyikat dan menggaruk kornea, jendela bening berbentuk kubah di bagian depan mata Anda. Iritasi yang terus menerus ini membuat kornea menjadi keruh, sehingga dapat menyebabkan perkembangan ulkus kornea dan kehilangan penglihatan.

Berikut faktor-faktor yang meningkatkan resiko Anda terkena trakhoma:

  • Kemiskinan: Trachoma terutama merupakan penyakit populasi yang sangat miskin di negara-negara berkembang.
  • Kondisi kehidupan yang ramai: Orang yang hidup dalam kontak dekat memiliki resiko lebih besar untuk menyebarkan infeksi.
  • Sanitasi yang buruk: Kondisi sanitasi yang buruk dan kurangnya kebersihan, seperti wajah atau tangan yang tidak bersih, membantu menyebarkan penyakit ini
  • Usia: Di daerah dimana penyakit ini aktif, kondisi ini paling umum terjadi pada anak-anak usia 4 hingga 6 tahun.
  • Seks: Di beberapa daerah, tingkat wanita tertular penyakit ini dua hingga enam kali lebih tinggi daripada pria.
  • Lalat: Orang yang tinggal di daerah dengan masalah mengendalikan populasi lalat mungkin lebih rentan terhadap infeksi trachoma.
  • Kekurangan jamban: Populasi yang tidak memiliki akses ke jamban kerja, sejenis toilet umum, memiliki insiden penyakit yang lebih tinggi.

Sayangnya, tidak ada vaksin trakhoma yang tersedia, tetapi pencegahan mungkin dilakukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengembangkan strategi untuk mencegah trakhoma, dengan tujuan menghilangkannya pada tahun 2020. Strategi tersebut ada SAFE, melibatkan:

  • Surgery: Pembedahan untuk mengobati bentuk trakhoma lanjut
  • Antibiotik: Antibiotik untuk mengobati dan mencegah infeksi
  • Facial: Kebersihan wajah
  • Environmental: Perbaikan lingkungan, terutama dalam air, sanitasi dan pengendalian lalat

Anda disarankan untuk segera menghubungi dokter jika Anda atau anak Anda memiliki mata yang gatal atau iritasi atau keluar dari mata, terutama jika Anda tinggal di atau baru-baru ini bepergian ke daerah di mana trakhoma biasa terjadi. Trakhoma adalah kondisi menular, mengobati dan merawatnya sesegera mungkin membantu mencegah infeksi lebih lanjut.

Antraks

Antraks adalah penyakit hewan ternak yang juga dapat menyerang hewan liar.

Antraks merupakan penyakit langka dimana penyakit tersebut terjadi akibat bakteri pembentuk spora Bacillus anthracis. Hewan ternak adalah sumber yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan seperti ini. Tidak hanya terjadi pada manusia, antraks juga bisa menyerang hewan liar.

Antraks bisa menular ke manusia melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan yang sakit. Penularan biasanya terjadi dengan bakteri antraks masuk ke dalam tubuh melalui luka di bagian kulit, mengkonsumsi daging yang terkontaminasi dan kurang matang, atau menghirup spora antraks.

Gejala

Jika manusia terkena antraks melalui luka kulit (antraks kutaneus), maka gejala yang akan dialami adalah:

  • Timbul lecet, benjolan, atau gatal yang terlihat seperti gigitan serangga sehingga berubah menjadi luka yang tidak menimbulkan rasa nyeri.
  • Pembengkakan di sekitar luka.

Jika manusia terkena antraks akibat mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung spora seperti daging setengah matang yang terinfeksi (antraks gastrointestinal), maka gejala yang akan dialami adalah sebagai berikut:

  • Pembengkakan di bagian leher atau kelenjar sehingga menimbulkan rasa nyeri ketika menelan.
  • Demam.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut.
  • Mual
  • Muntah.
  • Diare berdarah berat.
  • Kemerahan di bagian wajah, termasuk bagian mata.
  • Pingsan.
  • Nyeri dan pembengkakan pada bagian perut.

Jika manusia menghirup spora antraks, maka gejala yang akan dialami adalah sebagai berikut:

  • Demam.
  • Merasa lelah.
  • Pegal.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sesak nafas.
  • Batuk dengan mengeluarkan darah.
  • Mual.
  • Nyeri ketika menelan.
  • Perasaan tidak nyaman di bagian dada.
  • Merasa bingung.
  • Pusing.
  • Berkeringat.
  • Meningitis.
  • Mengalami syok atau penurunan tekanan darah yang berpotensi fatal.

Penyebab

Antraks terjadi akibat bakteri Bacillus anthracis. Bakteri tersebut membuat spora yang merupakan bentuk bakteri hidup dengan menggunakan cangkang pelindung. Spora tersebut bisa bertahan dalam waktu yang lama hingga bertahun-tahun.

Seseorang bisa terkena infeksi antraks jika spora masuk ke dalam tubuh dan melepaskan bakteri yang menimbulkan racun sehingga berpotensi mengalami gejala seperti di atas. Berikut adalah beberapa cara orang bisa terpapar:

  • Tidak sengaja menghirup spora.
  • Mengkonsumsi sesuatu yang tercemar spora antraks.
  • Kontak fisik dengan sesuatu yang sudah terkena spora sehingga dapat menyebar melalui kulit.
  • Menggunakan obat terlarang yang disebut sebagai injection anthrax.

Diagnosis

Jika Anda terkena antraks, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter. Berikut adalah tes yang dapat dilakukan:

  • Tes darah

Tes darah dapat dilakukan untuk mengetahui jika terdapat bakteri di dalam darah pasien.

  • Sampel kulit

Sampel kulit dapat dilakukan jika pasien memiliki gejala kulit.

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan berupa CT scan dan X-ray dapat dilakukan jika pasien menghirup antraks.

  • Pemeriksaan feses

Pemeriksaan feses dapat dilakukan jika terdapat bakteri antraks gastrointestinal.

  • Pemeriksaan cairan tulang belakang

Pemeriksaan cairan tulang belakang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi meningitis yang disebabkan oleh antraks.

Pengobatan

Untuk mengobati antraks, Anda dapat menggunakan obat antibiotik seperti Penicilin G, amoksilin, ciprofloxacin, atau doxycycline.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan dokter, ada baiknya jika Anda mempersiapkan diri melalui beberapa hal sebagai berikut:

  • Menuliskan gejala yang telah Anda alami.
  • Menuliskan obat yang telah Anda konsumsi.
  • Menuliskan pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.

Selama Anda berkonsultasi, dokter akan menanyakan kepada Anda terkait dengan kondisi yang Anda alami seperti:

  • Kapan Anda mengalami gejala tersebut?
  • Apa yang membuat Anda mengalami gejala ini?
  • Apakah kondisi yang dialami membaik atau memburuk?

Kesimpulan

Itulah informasi mengenai antraks. Antraks merupakan penyakit yang serius dimana kondisi tersebut perlu segera ditangani. Jika Anda mengalami gangguan seperti ini, Anda dapat tanyakan masalah ini dengan dokter dan ikuti arahan dokter untuk membantu memulihkan diri.

Kuku Rapuh dan Kekuningan? Waspada Infeksi Jamur Kuku

Kuku Rapuh dan Kekuningan? Waspada Infeksi Jamur Kuku

Sebenarnya, jamur ada di tubuh bersama beberapa jenis bakteri yang disebut mikroflora normal tubuh. Ketika jamur tumbuh tidak terkendali, saat itulah jamur dapat memicu infeksi.

Jamur dapat menginfeksi bagian tubuh mana pun. Tidak terkecuali kuku. Ochomycosis merupakan jamur yang biasanya dapat menginfeksi kuku tangan atau kaki. Infeksi ini biasanya terjadi dalam waktu yang panjang. Di tahap awal terjadinya infeksi jamur kuku, Anda mungkin tidak akan menyadari perubahannya sama sekali.

Dari waktu ke waktu, Anda mungkin mulai melihat perubahan pada kuku yang terinfeksi. Kuku mulai terangkat dari dasar kuku, menimbulkan bau, serta menjadi lebih rapuh. Kadang, warna kuku pun berubah menjadi putih, kuning, coklat, bahkan hitam.

Infeksi jamur kuku ini dapat terjadi pada sebagian kuku, seluruh kuku, atau beberapa bagian kuku.

Inilah penyebab jamur berkembang di kuku

Terjadinya infeksi jamur kuku karena ada pertumbuhan jamur berlebihan di bawah kuku.  Jenis jamur yang banyak menyebabkan infeksi kuku biasanya dari kelompok dermatofita.

Jamur mudah berkembang di lingkungan yang hangat dan lembab. Jika kondisi kuku Anda demikian, jamur dapat berkembang dengan cepat hingga terjadi kelebihan populasi dan memicu infeksi.

Itulah sebabnya, infeksi jamur kuku lebih banyak terjadi pada kuku kaki daripada jari tangan. Sebab kaki sering berada dalam lingkungan yang hangat dan lembab, seperti saat memakai sepatu.

Infeksi ini juga dapat menular. Bila Anda kontak dengan mereka yang memiliki infeksi jamur kuku, Anda juga dapat mengalaminya. Ini juga alasan Anda perlu berhati-hati saat ingin melakukan manicure dan pedicure di salon. Tanyakanlah bagaimana proses disinfeksi untuk alat-alat yang digunakan.

Kondisi ini membuat Anda lebih berisiko terkena jamur kuku

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur kuku. Setiap penyebab tentu memiliki solusi masing-masing. Meski rata-rata faktor penyebab infeksi tersebut dapat dihindari, namun beberapa faktor meningkatkan risiko seseorang mengalami infeksi jamur kuku.

Ada faktor-faktor risiko yang sulit dihindari, seperti usia. Mereka yang berusia lebih dari 65 tahun cenderung lebih mudah terinfeksi jamur kuku. Begitu juga orang-orang dengan sistem imun yang lemah.

Tapi, ada juga faktor risiko yang sifatnya sebetulnya eksternal dan sangat bisa dihindari. Sebagai contoh, kebiasaan memakai kuku palsu, berenang di kolam renang umum, serta kebiasaan menggunakan sepatu tertutup.

Di samping itu, penyakit atau cedera juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena jamur kuku. Penderita diabetes atau penyakit lain yang menyebabkan sirkulasi darah kurang baik misalnya, berisiko lebih tinggi mengalami infeksi ini. Cedera pada kuku atau pada kulit di sekitar kuku juga berisiko.

Jamur ini biasanya lebih banyak menginfeksi orang dewasa dibanding anak-anak. Sebab semakin bertambahnya usia, performa sistem sirkulasi semakin menurun. Kuku juga tumbuh lebih lambat dan cenderung menebal seiring berjalannya waktu.

Riwayat keluarga yang sering mengalami infeksi jamur kuku juga membuat seseorang lebih berisiko mengalami hal serupa. Tidak hanya itu, tampaknya gender juga memegang peranan di sini. Dari banyak kasus yang terjadi, infeksi ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada perempuan.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa Anda sedang mengalami infeksi jamur kuku?

Karena reaksinya yang kadang menyerupai infeksi lain, maka untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi jamur kuku, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter. Dokter biasanya akan mengirim sampel kuku ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan. Jika terkonfirmasi adanya infeksi jamur pada kuku, maka dokter akan memberikan perawatan yang sesuai.

Menghilangkan Tahi Lalat Melalui Operasi

Tahi lalat adalah sekelompok sel kulit yang biasanya berwarna coklat atau hitam, yang dapat muncul di mana saja di tubuh Anda.  Kebanyakan tahi lalat adalah jinak, berarti mereka tidak bersifat kanker. Namun jika tidak suka dengan tampilannya atau rasanya, Anda dapat menghapus tahi lalat melalui operasi.

Tahi lalat pada umumnya muncul sebelum Anda menginjak usia 20 tahun. Anda disarankan untuk menemui dokter jika tahi lalat muncul kemudian dalam hidup Anda, atau jika tahi lalat mulai berubah ukuran, warna, atau bentuk. 

Operasi menghilangkan tahi lalat, baik untuk alasan kosmetik atau karena tahi lalat bersifat kanker, akan menghasilkan bekas luka. Namun, bekas luka yang dihasilkan dapat menghilang dengan sendirinya tergantung pada faktor-faktor seperti usia, jenis operasi dan lokasi tahi lalat Anda.

Tahi lalat biasanya dapat dihilangkan oleh dokter kulit dalam kunjungan biasa. Terdapat dua prosedur operasi utama yang digunakan untuk menghilangkan tahi lalat, yaitu:

  • Cukur eksisi

Untuk prosedur ini, dokter kulit Anda menggunakan alat tipis seperti pisau cukur untuk mengiris tahi lalat dengan hati-hati.  Perangkat dengan elektroda mungil di ujungnya dapat digunakan untuk melakukan bulu bedah elektro.

Bulu-bulu membantu meminimalkan penampilan eksisi dengan memadukan tepi luka dengan kulit di sekitarnya. Jahitan tidak diperlukan setelah prosedur ini dan tahi lalat biasanya diperiksa di bawah mikroskop setelah itu untuk memeriksa mengenai tanda-tanda kanker kulit.

  • Eksisi bedah

Prosedur ini lebih dalam daripada eksisi mencukur dan lebih mirip operasi tradisional.  Dokter kulit Anda akan memotong seluruh tahi lalat dan di bawahnya ke lapisan lemak subkutan, dan menjahit sayatan dengan tertutup. Tahi lalat kemudian akan diperiksa untuk sel kanker.

Waktu penyembuhan setelah pengangkatan atau operasi tahi lalat tergantung pada setiap individu. Orang yang lebih muda cenderung sembuh lebih cepat daripada orang dewasa yang lebih tua. Begitu juga, sayatan yang lebih besar akan membutuhkan waktu lebih lama untuk ditutup daripada yang lebih kecil.  Secara umum, bekas luka operasi tahi lalat membutuhkan setidaknya dua hingga tiga minggu untuk sembuh.

Pengangkatan tahi lalat adalah jenis operasi sederhana. Biasanya dokter Anda akan melakukannya di kantor, klinik, atau pusat rawat jalan rumah sakit.

Operasi tahi lalat pada umumnya akan meninggalkan bekas luka. Resiko terbesar setelah operasi adalah bahwa situs tahi lalat Anda dapat terinfeksi. Anda disarankan untuk mengikuti instruksi dokter dengan hati-hati untuk merawat luka sampai sembuh. Hal ini berarti menjaganya agar tetap bersih, lembab, dan tertutup.

Tahi lalat biasa tidak akan kembali setelah dihilangkan dan dioperasi sepenuhnya. Namun, mungkin terjadi dengan tahi lalat yang memiliki sel kanker. Sel-sel dapat menyebar jika tidak segera diobati. Awasi area tahi lalat setelah dihilangkan dan beritahu dokter jika Anda melihat adanya perubahan.

Cakaran Kucing & “Serangan” Hewan Lain yang Harus Diwaspadai

Ada tiga jenis hewan mamalia yang kerap hidup berdampingan dengan manusia, yakni kucing, anjing, dan tikus. Jika kucing dan anjing merupakan hewan peliharaan yang populer, tikus ada di sekitar kita lantaran lingkungan hidup tersebut ideal bagi mereka. Ketiganya bisa jadi “musuh dalam selimut” bagi kita. Contohnya kucing, meski lucu, cakaran kucing bisa jadi masalah, lho.

Terlebih jika kucing itu dikategorikan liar, dalam artian bukan hewan yang dipelihara manusia. Kemungkinannya untuk menularkan penyakit semakin besar. Jadi, kita tetap harus waspada terhadap kucing. Begitu pula dengan anjing dan tikus.

Berikut beberapa bahaya di balik tiga hewan yang ada di sekitar manusia tersebut:

  • Gigitan Anjing

Sudah bukan rahasia umum jika gigitan anjing harus selalu dihindari lantaran kemungkinan buruk yang bisa dialami oleh orang yang malang tersebut. Ya, hal itu lantaran anjing berpotensi besar menularkan virus rabies kepada manusia melalui gigitannya.

Rabis dan anjing ini sudah begitu melekat. Bahkan, rabies disebut pula sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan virus akut yang menyerang sistem saraf pusat manusia atau mamalia.

Ketika seseorang tergigit anjing yang telah terinfeksi rabies, virus akan masuk ke pembuluh darah dan menyebar di dalam tubuh. Saat sudah mencapai otak, virus rabies akan menggandakan diri dengan cepat. Hal ini kemudian dapat menyebabkan peradangan berat pada otak dan saraf tulang belakang yang membahayakan kondisi pasien dan berpotensi besar menyebabkan kematian.

Penyebaran akan terjadi lebih cepat apabila pasien mengalami gigitan atau cakaran pada area leher atau kepala. Setelah virus rabies ini masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu virus tersebut tetap tinggal di tempat masuk dan di dekatnya, yang kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukkan adanya perubahan fungsi saraf.

Umumnya, masa inkubasi virus rabies adalah sekitar 4 hingga 12 minggu setelah gigitan anjing yang terinfeksi virus. Ada beberapa faktor yang menyebabkan waktu munculnya gejala berlangsung lebih cepat atau lebih lambat. Orang yang terinfeksi virus rabies biasanya akan mengalami gejala berupa: linu dan kesemutan; gelisah; linglung; dan gejala umum seperti flu.

  • Cakaran Kucing

Meskipun terlihat sederhana, jika tidak ditangani dengan baik, cakaran kucing dapat menyebabkan infeksi yang disebabkan bakteri Bartonella henselae, Staphylococcus, Streptococcus, dan Pasteurella. Perawatan luka cakaran kucing harus dilakukan dengan benar untuk meminimalisir risikonya.

Di dalam dunia medis, penyakit akibat cakaran kucing dikenal sebagai “demam cakaran kucing”. Orang yang baru saja tercakar kucing, apalagi kucing liar, harus segera datang ke rumah sakit. Kalau bisa, sebelum cakaran kucing itu “berumur” 8 jam. Langkah ini diperlukan untuk mencegah datangnya infeksi.

Sama seperti penyakit pada umumnya, cakaran kucing akan menimbulkan berbagai macam gejala pada tubuh sang penderita. Beberapa gejala itu bahkan membutuhkan penanganan medis yang serius dan segera.

Tanda paling mudah untuk mendeteksi adanya infeksi setelah menerima cakaran kucing adalah demam. Kondisi itu memang sebuah mekanisme alami tubuh untuk mempertahankan diri dari serangan bakteri. Selain itu, gejala-gejala seperti pusing atau sakit kepala, kelelahan, benjolan merah, dan menurunnya nafsu makan juga mungkin dirasakan.

Untuk memperkecil risiko munculnya infeksi, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menekan bagian luka cakaran kucing, hingga darahnya keluar. Hal ini dilakukan agar bakteri bisa dikeluarkan lewat darah.

Kemudian, bersihkan luka cakaran kucing dengan air bersih yang mengalir. Hentikan perdarahannya dengan kain bersih dan oleskan salep untuk luka, jika ada. Setelah itu, tutuplah luka dengan perban sampai Anda datang ke dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

  • Kencing Tikus

Hampir semua orang sepakat bahwa tikus adalah hewan kotor dan menjijikan. Dia bisa membawa berbagai penyakit bagi manusia. Air kencingnya bahkan diklasifikasikan sebagai penyakit tersendiri. Kencing tikus atau dalam istlah medis disebut leptospirosis tidak bisa disepelekan, pada tahap atau kondisi tertentu, penyakit itu bisa mematikan.

Gejala awal dari leptospirosis ini menyerupai flu, yaitu demam tinggi, sakit kepala, menggigil, dan nyeri. Pada tahap lebih lanjut, muncul gejala berupa muntah, sakit kuning, nyeri perut, diare, dan ruam.

Gejala umumnya terjadi selama sepekan. Jika tidak diobati, infeksi dapat menyebabkan kerusakan ginjal, hati, meningitis, gangguan pernapasan hingga kematian. Kuman penyebab leptospira dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Bahkan leptospira juga bisa bertahan di tanah yang lembap, tanaman, maupun lumpur dalam waktu lama.

Kuman leptospira ini dapat ‘berenang’ di air sehingga bisa menginfeksi kaki manusia yang sedang terluka. Leptospira juga bisa menginfeksi seseorang melalui makanan atau minuman. Umumnya laporan orang yang terkena leptospirosis terjadi setelah banjir.

***

Itulah beberapa bahaya yang bisa diterima manusia jika tidak waspada terhadap hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat, serta memastikan hewan peliharaan seperti kucing dan anjing dalam kondisi baik menjadi suatu keharusan.

Jangan sampai anggota keluarga harus menderita lantaran cakaran kucing, gigitan anjing, maupun kencing tikus yang sebenarnya dapat dihindari jika kita peduli dengan lingkungan kita.

Sering Mengalami Migrain? Bisa Jadi Tanda Kekurangan Vitamin B2

Sering Mengalami Migrain? Bisa Jadi Tanda Kekurangan Vitamin B2

Apakah Anda sering mengalami sakit kepala sebelah? Sakit kepala sebelah atau yang dikenal dengan migrain ini umumnya disebabkan karena kekurangan vitamin dalam tubuh. Salah satu vitamin yang tidak boleh dianggap sepele adalah vitamin B2.

Seperti apa sebenarnya migrain itu dan bagaimana memenuhi kebutuhan vitamin B2 untuk tubuh dapat mencegah gejala migrain? Mari simak penjelasannya lebih lanjut di bawah ini!

Mengenal migrain atau sakit kepala sebelah

Sakit kepala yang dirasa sangat berat, seperti berdenyut di salah satu sisi kepala merupakan gejala dari migrain. Migrain biasanya diikuti dengan gejala lain, seperti mual, muntah, dan lebih sensitif terhadap cahaya terang.

Dalam beberapa kasus tertentu, seseorang yang menderita migrain akan merasa sangat kesakitan, sehingga mengganggu aktivitas sehari-sehari. Rasa sakit ini dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sekitar beberapa jam dan dapat terjadi secara berulang dalam beberapa hari ke depan.

Memang terdengar sederhana, hanya sakit kepala. Tetapi, jika dibiarkan dan tidak ditangani sesegera mungkin, migrain dapat memicu komplikasi lain yang lebih serius, seperti stroke. Seseorang yang menderita migrain memiliki risiko dua kali lebih tinggi terkena stroke. Tidak hanya itu, migrain juga berdampak pada kesehatan mental orang yang bersangkutan. Beberapa gangguan mental yang mungkin dapat terjadi, antara lain depresi, bipolar, gangguan panik, hingga kecemasan.

Hingga saat ini, penyebab migrain sebenarnya belum diketahui secara jelas. Namun, beberapa ahli memperkirakan bahwa terdapat faktor keturunan dan lingkungan yang berkontribusi memicu seseorang menderita migrain.

Cegah migrain dengan penuhi kebutuhan vitamin B2

Sebuah hasil studi menyebutkan bahwa dengan mengonsumsi suplemen 400 mg vitamin B2 setiap hari bagi penderita migrain, dapat mencegah serangan migrain selanjutnya. Konsumsi vitamin ini perlu dilakukan setidaknya selama tiga bulan berturut-turut secara rutin.

Fungsi vitamin B2 selain untuk mencegah migrain, ia juga berperan dalam mencegah penyakit mata, seperti katarak dan glaukoma.

Anda dapat memenuhi kebutuhan vitamin B2 dengan mengonsumsi makanan berikut:

  • Daging sapi
  • Produk kacang-kacangan, seperti tahu, tempe, susu kedelai
  • Susu rendah lemak dan produk sejenisnya, seperti yoghurt
  • Ikan salmon
  • Jamur
  • Bayam
  • Kacang almond
  • Alpukat
  • Telur