Kontraktur Dupuytren Sebabkan Jari Tangan Bengkok Tanpa Nyeri

Meski tidak merasa sakit, namun kontraktur dupuytren bisa membuat jari tangan bengkok dan kurang nyaman. 

Kontraktur dupuytren merupakan kondisi yang dapat memengaruhi lapisan jaringan pada bagian bawah kulit telapak tangan. Hal ini terjadi karena simpul jaringan yang terbentuk di bawah kulit membuat tali tebal dan menarik satu atau lebih hingga membuat posisi jari tangan bengkok atau tertekuk.

Jari yang terkena biasanya tidak dapat diluruskan sepenuhnya, hingga mempersulit aktivitas sehari-hari seperti meletakkan tangan di saku, mengenakan sarung tangan, atau berjabat tangan. Kontraktur dupuytren umumnya menyerang dua jari manis dan kelingking. Penyakit ini juga kerap dialami oleh pria lanjut usia keturunan Eropa Utara. 

Gejala kontraktur dupuytren

Kontraktur dupuytren biasanya tidak dirasakan secara langsung, melainkan memiliki gejala yang timbul secara perlahan selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut biasanya dimulai dengan penebalan kulit di telapak tangan. Selanjutnya, kulit di telapak tangan akan tampak lebih berkerut seperti memiliki lesung pipit. Kontraktur dupuytren akan menyebabkan timbulnya gumpalan jaringan di telapak tangan Anda. Benjolan ini mungkin sensitif terhadap sentuhan tetapi biasanya tidak terasa sakit.

Pada tahap selanjutnya kontraktur dupuytren, menyebabkan terbentuknya tali jaringan di bawah kulit telapak tangan dan dapat menjulur hingga ke jari-jari. Saat tali tersebut mulai mengencang, maka jari-jari akan tertarik ke arah telapak tangan dan terasa sangat kuat, hingga menyebabkan dua jari yang terletak paling jauh dari ibu jari terkena. Kontraktur dupuytren dapat terjadi di kedua tangan, namun biasanya kondisi lebih parah berada pada satu tangan saja.

Penyebab kontraktur dupuytren

Umumnya penyakit ini belum diketahui apa penyebabnya, bahkan tidak ada bukti spesifik bahwa cedera tangan atau pekerjaan yang melibatkan getaran pada tangan menyebabkan kondisi tersebut. Namun, beberapa orang dengan faktor risiko seperti ini mungkin lebih rentan terjangkit.

– Kontraktur dupuytren paling sering menyerang pria berusia 50 tahun ke atas.

– Orang-orang keturunan Eropa Utara berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini.

– Kontraktur dupuytren bisa terjadi karena faktor genetik.

– Alkohol dan merokok dapat meningkatkan faktor risiko kontraktur dupuytren. Penyebabnya, karena adanya perubahan mikroskopis dalam pembuluh darah yang disebabkan oleh merokok. 

– Orang dengan diabetes memiliki peningkatan risiko kontraktur dupuytren lebih tinggi.

Pengobatan kontraktur dupuytren

Jika kondisi ini berkembang meski tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya berdampak kecil pada kemampuan menggunakan tangan untuk tugas sehari-hari, mungkin Anda tidak memerlukan pengobatan. Sebaliknya, jika Anda merasakan ketidaknyamanan yang berlebih hingga memberikan rasa sakit sebaiknya segera lakukan pengobatan yang meliputi: 

Terapi tusuk jarum

Teknik ini menggunakan jarum. Alat tersebut akan dimasukkan melalui kulit, untuk menusuk dan memutuskan tali jaringan yang berkontraksi dengan jari. Keuntungan utama dari teknik tusuk jarum adalah tidak adanya sayatan, dapat dilakukan pada beberapa jari pada waktu yang bersamaan, dan biasanya hanya diperlukan sedikit terapi fisik setelahnya. 

Memperbaiki gaya hidup 

Jika Anda memiliki kontraktur dupuytren ringan, sebaiknya hindari kebiasaan menggenggam terlalu kuat pada perkakas. Selalu gunakan sarung tangan dengan bantalan tebal jika terpaksa harus menggenggam kuat.

Tingkat keparahan kontraktur dupuytren dapat bervariasi dan membuat Anda sulit atau tidak nyaman untuk melakukan fungsi tertentu menggunakan tangan. Jari tangan bengkok biasanya dapat membatasi kemampuan Anda untuk membuka, menggenggam benda besar atau memasukkan tangan ke tempat yang sempit. Oleh karena itu, jika kamu sudah merasa sangat tidak kondusif dengan kondisi ini, sebaiknya segera buat janji dengan dokter sebelum keadaan berlanjut lebih serius.

Diapil 12 Kapsul untuk Diabetes, Bagaimana Efektivitasnya?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan guna meringankan gejala diabetes. Salah satunya adalah menggunakan obat herbal tradisional seperti Dami Sariwana Diapil 12 Kapsul.

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana obat herbal bisa mengatasi diabetes? Karena terbuat dari bahan alami, obat herbal mengobati gejala diabetes secara alami juga. Anda bisa merasakan manfaat signifikan dari menggunakan bahan-bahan herbal untuk diabetes.

Cara kerja obat herbal dalam mengobati diabetes

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, obat herbal bekerja dengan bahan-bahan alami yang ada di dalamnya. Anda bisa memilih untuk menggunakan obat herbal, suplemen, maupun keduanya di saat yang bersamaan.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa obat jenis apa pun, termasuk obat herbal sekalipun, tidak bisa menggantikan insulin. Karena itu, bagi Anda yang perlu menjalani terapi insulin untuk mengatasi diabetes, jangan bergantung sepenuhnya hanya kepada obat herbal saja. 

Jika ingin menggunakan obat herbal untuk mengatasi diabetes, perhatikan hal-hal berikut ini:

1. Bukan pengganti obat medis

Perlu diketahui juga bahwa tidak ada suplemen yang mampu memperbaiki pankreas yang berhenti memproduksi insulin. Sebaliknya, suplemen dan obat-obatan herbal seperti Diapil 12 Kapsul dimaksudkan untuk bekerja secara sinergis dengan rencana perawatan lainnya yang lebih komprehensif.

Dengan kata lain, sebagai penderita diabetes, Anda tetap memerlukan pengobatan medis dari dokter. Penggunaan obat herbal akan meningkatkan efektivitas pengobatan menjadi lebih cepat. 

2. Bekerja dengan memberikan nutrisi

Ketika seseorang mengalami diabetes, tubuhnya akan kekurangan berbagai macam nutrisi. Di sinilah obat herbal bisa memberikan bantuan. 

Obat herbal untuk diabetes bisa digunakan untuk menggantikan nutrisi yang hilang, menurunkan kadar glukosa, menurunkan resistensi insulin, serta mengurangi peradangan pada tubuh yang merupakan komplikasi dari diabetes.

Perhatian saat meminum obat herbal Diapil 12 Kapsul

Ketika akan meminum obat apapun, termasuk obat herbal Dami Sariwana Diapil 12 Kapsul, ada beberapa hal yang perlu Anda beri perhatian khusus. Berikut ini hal-hal tersebut:

1. Diminum hanya jika benar-benar menderita diabetes

Obat herbal bukan ditujukan untuk orang-orang yang ingin melakukan upaya pencegahan dari diabetes. Karena itu, Anda tidak boleh meminumnya jika belum benar-benar yakin bahwa Anda adalah penderita diabetes.

Jika Anda sudah didiagnosa oleh dokter sebagai penderita diabetes, barulah Anda boleh menggunakan obat herbal ini sebagai alternatif pengobatan tambahan. 

3. Tidak bisa menggantikan obat

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, obat herbal bekerja dengan sinergis bersamaan dengan perawatan medis. Anda tidak dianjurkan untuk bergantung sepenuhnya pada penggunaan obat herbal untuk mengatasi diabetes Anda. 

Selalu konsultasikan pada dokter sebelum menggunakan obat herbal. Dokter bisa memberikan arahan mengenai cara menggunakan obat herbal untuk diabetes yang baik dan benar. 

4. Efek samping dan risiko

Setiap jenis obat pasti memiliki efek samping. Hal ini juga berlaku pada obat herbal. Hanya saja, efek samping yang kemungkinan akan dialami oleh pengguna tentu berbeda-beda.

Salah satu efek samping yang mungkin timbul adalah reaksi alergi. Selain itu, bisa saja obat herbal melumpuhkan kemampuan obat dari dokter untuk mengobati gejala diabetes Anda. Efek samping dan risiko seperti ini harus selalu Anda waspadai.

Meskipun terbuat dari bahan alami, selalu usahakan untuk menggunakan obat herbal dengan bijak. Jika gejala diabetes yang Anda alami cenderung ringan, Anda mungkin bisa menggunakan Diapil 12 Kapsul untuk salah satu cara penyembuhan. 

Tanya Dokter Paru, Mulai dari Asma Hingga Pneumonia

Dokter spesialis paru merupakan salah satu spesialisasi dokter yang berfokus pada kesehatan sistem pernapasan. Ahli paru merawat segala sesuatu mulai dari asma hingga tuberkulosis. Jadi, kira-kira tanya dokter paru apa saja yang terkait dengan spesialisasinya? Simak terus artikel berikut ya, untuk mengetahui apa saja kita-kira hal yang terkait dengan dokter paru. 

Apa itu ahli paru?

Dokter spesialis paru adalah dokter yang mendiagnosa dan memperlakukan penyakit pada sistem pernapasan, paru-paru, dan organ lain yang membantu Anda bernapas. Untuk beberapa penyakit jangka pendek yang memengaruhi paru-paru Anda, seperti flu atau pneumonia, Anda mungkin bisa mendapatkan semua perawatan yang Anda butuhkan dari dokter biasa. Tetapi jika batuk, sesak napas, atau gejala lainnya tidak kunjung membaik, Anda mungkin perlu menemui ahli paru. 

Sistem pernapasan

Sistem pernapasan termasuk organ yang membantu Anda bernapas. Tiga bagian utama dari sistem ini adalah saluran napas, paru-paru, dan otot pernapasan. Jalan napas meliputi:

  • Hidung 
  • Mulut
  • Tekak
  • Pangkal tenggorokan
  • Batang tenggorokan
  • Bronkus
  • Bronkiolus
  • Alveoli

Anda mengunakan beberapa otot selama pernapasan. Yang paling menonjol adalah diagfragma. Otot-otot lain dikategorikan dalam kelompok, termasuk:

  • Otot intercostal, yang membantu menghirup
  • Otot aksesori, yang membantu pernapasan tetapi tidak memainkan peran utama
  • Otot pernapasan, yang membatu pernapasan yang kuat atau aktif

Kondisi seperti apakah yang ditangani dokter paru?

Seorang ahli atau spesialis paru dapat mengobati berbagai macam masalah paru-paru diantaranya:

  • Asma. Penyakit yang meradang dan menyempitkan saluran udara Anda dan membuat Anda sulit bernapas. 
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Sekelompok penyakit paru-paru yang mencakup emfisema dan bronkitis kronis. 
  • Custic fibrosis. Penyakit yang disebabkan oleh perubahan pada gen Anda yang membuat lendir lengket menumpuk di paru-paru Anda. 
  • Emfisema. Yang merusak kantung udara di paru-paru Anda. 
  • Penyakit paru-paru interstisial. Sekelompok kondisi yang melukai dan membuat paru-paru Anda kaku. 
  • Kanker paru-paru. Sejenis kanker yang dimulai di paru-paru. 
  • Apnea tidur obstruktif. Yang menyebabkan jeda berulang dalam pernapasan saat Anda tidur.
  • Hipertensi pulmonal. Atau tekanan darah tinggi di arteri paru-paru Anda. 
  • Tuberkolosis. Infeksi bakteri pada paru-paru. 
  • Bronkiektasis. Yang merusak saluran udara Anda sehingga melebar dan menjadi lembek atau bekas luka. 
  • Bronkitis. Yaitu saluran udara Anda meradang, dengan batuk dan lendir berlebih. Ini dapat menyebabkan infeksi. 
  • Pneumonia. Infeksi yang membuat kantung udara (alveoli) di paru-paru meradang dan berisi nanah. 
  • Pneumonia Covid-19. Yang dapat menyebabkan masalah pernapasan parah dan gagal napas. 

Prosedur apa yang digunakan dokter paru?

Umumnya, sebelum melakukan tindakan Anda dapat tanya dokter paru apa prosedur yang perlu Anda lakukan untuk menentukan sebuah diagnosis paru-paru. Nah, dokter paru biasanya akan melakukan uji dan tes beberapa hal berikut untuk mendiagnosis terkait penyakit atau masalah pada paru-paru. Ini mungkin termasuk:

  • CT scan untuk mendapatkan gambaran detail dari tulang, otot, organ lemak, dan pembuluh darah di dada Anda. 
  • Fluoroskopi dada, tes sinar X untuk melihat seberapa baik paru-paru Anda dapat berfungsi
  • USG dada untuk memeriksa organ dan struktur dada lainnya
  • Biopsy pleura untuk mengambil sampel jaringan kecil dari pleura, yang merupakan membrane yang mengelilingi paru-paru Anda
  • Tes fungsi paru, tes pernapasan untuk melihat seberapa baik paru-paru Anda bekerja
  • Tes oksimetri nadi untuk menentukan tingkat saturasi oksigen dalam darah Anda
  • Thoracentesis untuk mengeluarkan dan mengambil sampel cairan dari sekitar paru-paru Anda 
  • Tabung dada untuk mengeluarkan udara atau cairan dari sekitar paru-paru Anda
  • Bronkoskopi untuk memeriksa jalan napas Anda dan menentukan apakah Anda memiliki masalah pada trakea, saluran udara bagian bawah, tenggorokan atau laring
  • Studi tidur untuk membantu mendiagnosis gangguan tidur, seperti sleep apnea

Namun, dalam kasus penyakit dan kondisi paru-paru yang lebih serius, dokter paru dapat merujuk Anda ke ahli bedah thorax untuk prosedur seperti lobektomi untuk mengangkat sebagian dari paru-paru yang sakit atau transplantasi paru-paru. Sebelum itu, biasanya dokter paru akan membicarakan hal tersebut dengan keluarga pasien terlebih dahulu. Anda dapat tanya dokter paru tentang apa pun, mulai dari risiko, prosedur pelaksanaan, hingga pemulihan. 

10 Penyebab Benjolan di Kepala Penis Serta Cara Mengatasinya

Benjolan di penis sangat ditakuti sebagai gejala kanker atau infeksi menular seksual. Tapi seringkali benjolan di area tersebut bukanlah kondisi yang berbahaya. 

Benjolan kecil di alat kelamin adalah hal yang sangat umum terjadi dan disebabkan oleh banyak hal, misalnya papula penis mutiara. Benjolan di kepala penis juga bisa jadi bagian dari anatomi normal penis Anda.  

Kenali penyebab benjolan di penis, mulai dari dari jerawat, kutil, kista, hingga kanker.

  

Artikel berikut akan menjelaskan berbagai penyebab benjolan di penis.

Penyebab timbulnya benjolan di penis

  1. Kelenjar Tyson

Kelenjar Tyson adalah kelenjar sebaceous kecil yang terbentuk di kedua sisi frenulum (lipatan jaringan ikat di bawah penis). Mereka muncul sebagai benjolan kecil berwarna kuning atau putih di kulup.

Kelenjar Tyson merupakan struktur normal pada penis pria dan tidak berbahaya, sehingga tidak diperlukan perawatan medis.

  1. Bintik Fordyce

Bintik Fordyce adalah benjolan kecil berwarna putih kekuningan yang terbentuk di kepala, batang, atau kulup penis. Kondisi ini terjadi akibat kelenjar sebaceous yang membesar. 

Bintik Fordyce tidak berbahaya dan tidak perlu perawatan medis. Tapi Anda bisa menghilangkannya dengan terapi laser serta perawatan topikal dan oral.

  1. Papula penis mutiara

Papula penis mutiara (PPP) merupakan kondisi yang sangat umum dan bukan masalah medis. PPP akan menyebabkan benjolan di penis yang sekilas terlihat seperti kutil kelamin dan moluskum kontagiosum.

PPP tidak perlu ditangani, tapi Anda bisa menghilangkannya melalui operasi.

  1. Kutil kelamin

Infeksi menular seksual yang paling umum adalah kutil kelamin, yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV). Kutil kelamin bisa muncul sebagai kutil tunggal atau kumpulan kutil yang terlihat seperti kembang kol.

Kutil kelamin bisa hilang dengan sendirinya, namun virus akan menetap sehingga dapat menyebabkan kekambuhan di masa mendatang. Dokter akan meresepkan obat topikal untuk meredakan gejala. Jika kutil tidak kunjung sembuh, maka diperlukan operasi pengangkatan.

  1. Moluskum kontagiosum

Moluskum kontagiosum merupakan penyakit menular yang tidak berbahaya. Kondisi ini ditandai dengan terbentuknya benjolan bulat di kulit tubuh manapun (alat kelamin, wajah, leher, atau lainnya) yang terkadang gatal namun tidak menyebabkan sakit.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dan paling sering terjadi pada anak-anak akibat berbagi handuk dengan orang yang terinfeksi. Pada remaja dan dewasa, moluskum kontagiosum dapat ditularkan melalui kontak seksual, sehingga termasuk ke dalam penyakit infeksi menular seksual.

Dalam waktu 6-12 bulan, virus biasanya hilang dengan sendirinya. Namun dokter lebih menganjurkan mendapat perawatan, seperti cryosurgery dan topikal, karena mudah menular. 

  1. Psoriasis

Sepertiga hingga dua pertiga penderita psoriasis juga mengalami psoriasis genital. Terdapat dua jenis psoriasis genital, yaitu psoriasis terbalik dan psoriasis plak. 

Psoriasis terbalik menyebabkan kulit di area genital memerah dan kencang, disertai sakit dan gatal. Sedangkan psoriasis plak ditandai dengan benjolan merah kecil di penis.

Psoriasis genital dapat diobati dengan krim kortikosteroid, penggunaan pelembab OTC ringan dan bebas pewangi, atau obat oral dan suntik. 

  1. Lichen sclerosus

Pria yang tidak disunat rentan terkena lichen sclerosus. Dan penderita lichen sclerosus berisiko tinggi mengembangkan kanker kulit di area yang terkena. 

Lichen sclerosus ditandai dengan bercak tipis di daerah genital atau anus. Bercak bisa datar atau berupa benjolan serta terasa nyeri dan gatal, terutama saat berhubungan intim.

Steroid topikal atau obat pengatur kekebalan digunakan untuk mengatasi kondisi tersebut. Pasien dengan kasus yang parah dan belum disunat dianjurkan untuk operasi pengangkatan kulup (sunat).

  1. Herpes genital

Seseorang yang terinfeksi mulanya akan merasa sakit atau gatal di penis, dan diikuti terbentuknya benjolan kecil di penis yang berwarna kemerahan atau lepuh putih. Benjolan yang pecah akan meninggalkan bekas keropeng. Gejala seperti flu dan pembengkakan kelenjar getah bening juga sering terjadi.

Dokter akan memberikan obat antivirus untuk mengurangi gejala dan keparahan serta mempercepat penyembuhan luka. Anda juga dianjurkan untuk menjaga area genital tetap bersih dan kering.

  1. Kanker penis

Kanker penis sangat jarang terjadi terutama pada anak-anak. Kondisi ini ditandai dengan perubahan kulit penis, biasanya di ujung atau kulup. Gejala lainnya meliputi:

  • Benjolan di penis atau kulup
  • Perubahan warna atau ketebalan kulit
  • Pertumbuhan datar berwarna coklat kebiruan
  • Ruam kemerahan di bawah kulup
  • Keluarnya cairan berbau atau berdarah

Semakin cepat penyakit terdeteksi, maka semakin mudah pula pengobatan yang diterima. Pengobatan utama kanker penis adalah pembedahan, atau bisa juga diganti atau dikombinasikan dengan terapi radiasi. 

Kemoterapi dan perawatan lokal juga umum dianjurkan dokter. 

  1. Sifilis

Sifilis adalah infeksi bakteri yang didapat melalui aktivitas seksual. Gejala awalnya adalah terdapat luka kecil yang disebut chancre yang sekitar 3 minggu setelah terpapar. Penderita bisa mengembangkan satu chancre atau lebih.

Sifilis terjadi secara bertahap dan apabila tidak segera diobati akan menyebabkan komplikasi serius. Biasanya dokter akan menyuntikkan antibiotik penicilin untuk menghentikan perkembangannya.

Sebagian besar benjolan di penis tidak berbahaya. Tapi jika Anda ragu, Anda bisa menanyakannya kepada dokter melalui aplikasi SehatQ.

5 Penyebab Kencing Berbusa, Salah Satunya Akibat Dehidrasi

Pernahkah Anda mengalami kencing berbusa? Biasanya urine berbusa ini terjadi ketika ketika kencangnya kecepatan semburan aliran buang air kecil tersebut. Jika diibaratkan, sama halnya ketika air dari keran yang dibuka maksimal, maka air yang turun akan berbusa. 

Kencing berbusa tanda gangguan ginjal

Jika kondisi ini terjadi, sebenarnya hal yang normal dan Anda tidak perlu khawatir. Namun, jika kencing Anda berbusa padahal semburan buang air kecil perlahan-lahan dan seringkali terjadi, maka bisa jadi ini adalah tanda masalah kesehatan tertentu.

Kencing Berbusa Jadi Tanda Masalah 

Tentu jika Anda mengalami kondisi urine yang berbusa terus-menerus, bahkan kondisinya semakin memburuk dari waktu ke waktu, maka hal ini tentu menjadi hal yang perlu diwaspadai.

Anda juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan tertentu yang berisiko menyebabkan kencing berbusa. Ada pula gejala-gejala atau keluhan lain yang juga terjadi secara bersamaan, seperti:

  • Merasakan mual dan muntah
  • Terjadi pembengkakan tangan, kaki, wajah, serta perut. Ini merupakan tanda kerusakan ginjal
  • Merasa lesu dan lemas
  • Hilangnya nafsu makan
  • Kesulitan untuk tidur
  • Pada pria biasanya mengalami orgasme namun tidak mengeluarkan air mani
  • Warna urine berubah menjadi lebih gelap
  • Mengalami masalah ketidaksuburan

Jika gejala atau keluhan di atas menyertai kondisi urine berbusa yang dialami, maka perlu diwaspadai.

Penyebab Kencing Berbusa

Urine yang memiliki masalah biasanya berkaitan dengan proses pembuangan oleh ginjal yang juga bermasalah. Oleh karena itu, ada beberapa penyebab kencing berbusa ini, yaitu:

  1. Gangguan Ginjal

Salah satu yang bisa menyebabkan kencing berbusa adalah karena adanya kandungan protein di dalam air seni. Harusnya, ginjal dapat menyaring kelebihan air dan juga zat sisa dari darah menjadi urine. Akan tetapi, substansi seperti protein ini tidak ikut tersaring di ginjal. 

Namun, jika ginjal mengalami masalah, protein akan bocor dan masuk ke urine yang disebut proteinuria. Orang yang menderita masalah proteinuria ini adalah orang yang mengalami gangguan ginjal kronis. Gejala seseorang mengalami gangguan ginjal ini yaitu kulit gatal, mual, berkeringat, napas pendek, sering buang air kecil, serta mengalami kelelahan tanpa sebab.

  1. Dehidrasi

Jika urine berwarna pekat dan gelap, akan terlihat buih daru kencing yang dikeluarkan, Hal ini biasanya terjadi apabila seseorang mengalami dehidrasi atau kurang cairan. 

  1. Diabetes

Penderita diabetes juga akan mengalami gejala kencing berbusa ini. Diabetes yang tak terkontrol lagi akan menyebabkan molekul glukosa di tubuh. Glukosa ini seperti kandungan protein.

Saat ginjal gagal menyaring substansi ini, maka glukosa akan ikut keluar bersama urine sebagai buah. Tidak hanya ditandai dengan kencing berbuih, biasanya penderita diabetes juga mengalami mulut kering dan merasa haus, pandangan buram, kelelahan, sering buang air kecil, dan akan muncul rasa lapar tiba-tiba.

  1. Mengonsumsi Obat Tertentu

Seseorang yang mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti phenazopyridine juga mengalami kencing berbusa. Obat-obatan tersebut umumnya digunakan untuk meredakan nyeri yang terjadi karena infeksi saluran kemih. Kandungan dalam obat-obatan tersebut menyebabkan urine berubah warna menjadi oranye. Kadang, kandungan obat ini juga bereaksi menjadi busa saat terkena air.

  1. Ejakulasi Retrograde

Meski jarang terjadi, ejakulasi retrograde ini bisa memicu terjadinya kencing berbuih. Air mani pada penderita ini akan kembali ke kandung kemih dan tidak dikeluarkan oleh penis. 

Kondisi ejakulasi retrograde ini juga bisa disebabkan oleh konsumsi obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, pernah menjalani prosedur operasi di area uretra atau prostat, atau mengonsumsi obat untuk mengatasi pembesaran prostat.

Apapun yang menjadi penyebab kencing berbusa yang dialami, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Tapi, seharusnya Anda tidak perlu khawatir jika urine berbusa memudar sendiri sebelum terkena air. Karena hal tersebut tidak masalah yang perlu dikhawatirkan.

Benarkah Primary Aldosteronism Menjadi Penyebab Hipertensi?

Tekanan darah tinggi atau yang juga disebut hipertensi adalah kondisi di mana darah di dalam tubuh meningkat. Hipertensi seringkali menjadi penyebab utama penyakit jantung, stroke, dan gagal jantung. Pun, tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap. 

Banyak hal yang menyebabkan hipertensi. Primary aldosteronism pun disebut sebagai salah satu penyebab dari tekanan darah tinggi. Apa sih sebenarnya kondisi primary aldosteronism. Yuk, kenal lebih jelas apa itu Primary aldosteronism!  

Apa itu primary aldosteronism?

Primary aldosteronism adalah kondisi di mana terjadi kelainan hormon yang menyebabkan peningkatan tekanan darah. Kondisi ini terjadi ketika kelenjar adrenal menghasilkan terlalu banyak hormon aldosterone, yang disebabkan oleh gangguan pada kelenjar adrenal. Aldosterone adalah hormon yang mengontrol kadar garam dan kalium dalam darah. 

Karena kelainan hormon tersebutlah yang membuat terjadinya hipertensi, jadi memang benar bahwa primary aldosteronism mempengaruhi terjadinya tekanan darah tinggi. Meskipun begitu, hanya 1 dari 100 orang atau kurang dari semua kasus tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh primary aldosteronism.

Apa gejala yang sering terjadi pada primary aldosteronism?

Gejala yang paling sering terjadi adalah, pasien memiliki tekanan darah lebih tinggi dari biasanya. Tes darah membantu untuk mengetahui apakah tekanan darah tinggi berasal dari primary aldosteronism atau sesuatu yang lainnya. Pengobatan biasa untuk tekanan darah tinggi umumnya tidak membantu mengobati primary aldosteronism.

Kadar elektrolit abnormal yang sering terlihat dengan terlalu banyak aldosterone menyebabkan tanda-tanda seperti:

  • Kekurangan kekuatan otot
  • Sering buang air kecil
  • Pengosongan malam hari
  • Sakit kepala
  • Meningkatkan rasa haus
  • Masalah penglihatan
  • Kelumpuhan yang datang dan pergi
  • Otot berkedut dan kram

Tingkat keparahan mungkin tergantung pada derajat kelainan elektrolit. 

Penyebab terjadinya primary aldosteronism

Pada kebanyakan kasus, primary aldosteronism penyebab terjadinya karena turunan. Primary aldosteronism disebabkan oleh tumor pada kelenjar adrenal (adenoma kortikal jinak). Ini mungkin disebabkan oleh pertumbuhan yang aneh di kedua kelenjar adrenal (dikenal sebagai hyperplasia adrenal bilateral). Kedua, masalah kesehatan tersebut menyebabkan terlalu banyak aldosterone yang dilepaskan. 

Terkadang kelebihan aldosterone disebabkan oleh masalah kesehatan lain yang menurunkan aliran darah ke ginjal. Sebagai contoh:

  • Kehilangan cairan 
  • Penyempitan arteri ginjal
  • Gagal jantung
  • Syok
  • Penyakit hati
  • Kehamilan 
  • Beberapa tumor ginjal

Lalu bagaimana dengan pengobatannya?

Perawatan yang tepat utuk primary aldosteronism akan tergantung pada penyebabnya. Meskipun hipertensi sering kambuh setelah adrenalektomi unilateral pada pasien dengan aldosteronisme primer sekunder akibat aldosteronoma adrenal, angka kesembuhan hipertensi rata-rata 19% setelah adrenalektomi unilateral atau bahkan bilateral pada pasien medis dengan hiperplasia adrenal idiopatik. 

Hiperaldosteronisme primer yang disebabkan oleh tumor paling sering diobati dengan pengangkatan kelenjar adrenal. Ingatlah bahwa pengambilan sampel vena adrenal adalah wajib sebelum kelenjar adrenal dengan massa diangkat, karena pada sepertiga pasien, masalah ini dapat berasal dari kedua atau sebaliknya kelenjar adrenal. Operasi hampir selalu dilakukan laparoskopi. 

  • Hiperplasia bilateral diobati dengan diuretik yang membantu mengelola penumpukan cairan di dalam tubuh. 
  • Hiperaldosteronisme sekunder paling sering diobati dengan obat-obatan. 

Penting untuk diketahui bahwa operasi adrenal itu sangat kompleks. Ini membantu untuk memilih seorang ahli bedah yang memiliki pengalaman signifikan dengan operasi di area sekitar ginjal dan kelenjar adrenal. Bicaralah dengan beberapa ahli bedah sebelum Anda memilih satu untuk diajak bekerjasama. 

Setelah perawatan

Kebanyakan pasien akan mengalami pemulihan yang cepat dan lancar dari operasi. Tekanan darah tinggi meningkat pesat pada 80 dari 100 menjadi 90 dari 100 kasus. Tetapi bahkan setelah operasi, Anda mungkin masih memiliki tekanan darah Anda kembali normal. Alasan tersebut tidak sepenuhnya diketahui mengapa, mungkin akibat kerusakan ginjal dari hiperaldosteronisme primer.

Lichen sclerosus, Penyakit yang Menyerang Wanita Setelah Menopause

Lichen sclerosus adalah salah satu gangguan kulit yang menyebabkan timbulnya bercak-bercak putih, paling sering terjadi pada area kelamin. Kulit pada bagian bercak ini biasanya terlihat lebih tipis dibandingkan kulit normal. Semua orang berisiko mengalami Lichen sclerosus. Lichen sclerosus mungkin juga muncul di  bagian atas tubuh, seperti dada dan lengan. Penyakit ini umumnya menjangkiti wanita. Namun, laki-laki dan anak-anak juga bisa terkena penyakit ini. Namun kalangan orang yang paling berisiko tinggi adalah wanita setelah menopause. Lichen sclerosus bersifat kambuhan. Oleh karena itu, penderitanya dianjurkan untuk telaten merawat dan rutin memeriksakan kondisi kulitnya ke dokter.

image Lichen Sclerosus

Lichen sclerosus ini merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan melalui kontak fisik, termasuk hubungan seksual. Penyebab lichen sclerosus belum dapat dipastikan, namun diduga berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon. Pada kasus lichen sclerosus (LS) yang ringan, terkadang tidak terlihat tanda atau gejala yang jelas. Berdasarkan gejalanya, lichen sclerosus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu

  1. Lichen sclerosus vulva (LS Vulva)

Pada wanita, kondisi ini muncul pada area vulva, yaitu bagian genital wanita. LS vulva bisa terjadi pada satu area kecil atau menyebar hingga perineum (area lubang anus dan vagina). Pada sebagian penderita, lichen  sclerosus dapat menyebar hingga ke kulit di sekitar anus. Kendati demikian, ini tidak berpengaruh ke dalam mukosa vagina.  Gejala lain yang menyertai LS vulva adalah rasa gatal, yang biasanya akan bertambah parah pada malam hari, sampai mengganggu tidur. Gejala berikutnya adalah kulit semakin tipis, berkeriput, muncul memar, luka lepuh, dan borok, terutama setelah digaruk. Jika kondisi ini tidak diobati, vulva dapat secara bertahap menjadi jaringan parut dan menyusut, sehingga pintu vagina semakin sempit dan mengeras. Hal ini dapat membuat rasa tidak nyaman dan nyeri saat berhubungan seksual. Selain gejala-gejala tersebut, LS juga dapat membuat urine menjadi bau.

  1. Lichen sclerosus extragenital 

Kondisi ini juga menyerang wanita. Biasanya ditemukan satu atau beberapa bercak pada paha dalam, bokong, punggung bawah, perut, di bawah payudara, leher, bahu, dan ketiak. Bercak tersebut menyerupai kertas Gejala lainnya adalah folikel rambut yang terlihat jelas, kulit kering, memar, luka lepuh, dan borok.

  1. Lichen sclerosus penis

Pada pria, lichen sclerosus cenderung berkembang pada kulup atau ujung penis, dan jarang menyerang kulit di sekitar anus. Selanjutnya, daerah yang terkena lichen sclerosus akan berwarna putih, mengeras, dan terdapat jaringan parut Kondisi ini membuat uretra menyempit, sehingga aliran urine menjadi bengkok dan kulup sulit untuk ditarik (fimosis). Akibatnya, penderita akan kesulitan buang air kecil dan merasakan nyeri saat ereksi. 

Pada kasus di mana lichen sclerosus lebih banyak dialami oleh wanita pasca menopause, diduga penyebabnya adalah akibat kekurangan hormon estrogen. Selain itu, kerusakan kulit yang telah ada sebelumnya juga diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. Sedangkan pada pria, lichen sclerosus diduga terjadi akibat kerusakan berkala yang dipicu oleh penyumbatan urine di bawah kulup penis. Lichen sclerosus belum ditemukan cara untuk pencegahan dari penyakit ini. Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala dari lichen sclerosus segeralah periksa ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Jika tidak, penyakit ini dapat menyebabkan jaringan parut alat kelamin menyempit dan mengganggu saat buang air kecil atau berhubungan seks. Jadi, segeralah konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala dari lichen sclerosus agar kondisi tidak semakin parah dan memburuk.

Xanthoma Akibat Kolesterol Tinggi, Kenali Penyebab dan Gejalanya

Xanthelasma atau nama lainnya Xanthoma merupakan penyakit pada kulit yang ditandai dengan adanya plak berwarna kekuningan, yang umumnya timbul di sudut mata bagian tengah kelopak mata. Plak tersebut muncul akibat penumpukan lemak di bawah kulit. Bentuknya seperti gumpalan lembut dan agak padat. Sedangkan ukurannya bervariasi, mulai dari kecil hingga besar dan bisa tersebar maupun berkelompok.

Selain di area kelopak mata, Xanthoma juga bisa muncul di siku, kaki, tangan, lutut, dan pantat. Xanthoma biasanya tidak menimbulkan rasa sakit atau nyeri, namun bisa terasa gatal, tidak nyaman, dan tentunya mengganggu penampilan. Kelainan kulit ini bisa terjadi pada orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi. Biasanya terjadi pada usia paruh baya sekitar 30-50 tahun ke atas dan lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.

Xanthoma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan plak atau benjolan lemak kekuningan

Penyebab

  • Kolesterol Tinggi. Kolesterol adalah lemak yang berguna untuk tubuh, tetapi bisa membahayakan kesehatan apabila kadarnya terlalu tinggi, termasuk menimbulkan xanthoma. Kolesterol tinggi jika dihitung angkanya mencapai 240 mg/dL atau lebih.
  • Diabetes. Diabetes adalah kondisi dimana kadar gula darah di dalam tubuh terlalu tinggi hingga 200 mg/dL. Pankreas tidak menghasilkan insulin yang digunakan tubuh untuk menyimpan serta menggunakan gula dan lemak.
  • Hipotiroidisme. Hipotiroidisme adalah kondisi di mana rendahnya hormon tiroid dalam tubuh karena kelenjar tiroid tidak bisa memproduksi hormon tiroid yang cukup. Gejalanya berupa penambahan berat badan, sehingga bisa menimbulkan xanthoma.
  • Sirosis Bilier Primer. Ketika saluran empedu mengalami kerusakan secara perlahan, maka proses pencernaan lemak dan pengeluaran zat sisa metabolisme juga terganggu. Penyakit ini termasuk autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh malah balik menyerang sel-sel sehat.
  • Kolestasis. Kolestasis adalah penyakit pada hati yang disebabkan aliran empedu dari hati melambat atau tersumbat. Penyebab lain dari kolestasis yaitu kadar kolesterol yang tinggi sehingga xanthoma juga timbul pada tubuh.
  • Sindrom Nefrotik. Gangguan pada ginjal yang menyebabkan tubuh mengeluarkan terlalu banyak protein (albumin) lewat urine sehingga tubuh memiliki banyak cairan ekstra. Umumnya disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah di ginjal yang berfungsi menyaring limbah pada darah.
  • Efek Samping Obat-Obatan. Obat-obatan seperti tamoxifen, prednisone, dan siklosporin dapat menimbulkan efek samping berupa xanthoma atau muncul benjolan lemak berwarna kekuningan pada area tengah kelopak mata atau bagian tubuh tertentu.

Gejala

Xanthoma kutaneus atau xanthoma yang timbul pada kulit biasanya ditemukan di sekitar kelopak mata, terutama pada sudut mata bagian dalam. Plak atau gumpalan tersebut berwarna kekuningan, terlihat berkerut, memiliki tekstur lunak karena bentuk dari kumpulan lemak, dan kadang terdapat bintik-bintik kecil di atasnya. Gumpalan yang timbul lama kelamaan bisa bertambah besar dan menimbulkan rasa tidak nyaman karena akan terasa mengganjal.

Jenis xanthoma lainnya adalah xanthoma diseminata. Tumpukan lemak bukan hanya terjadi di kulit melainkan juga di organ dalam tubuh seperti jantung dan paru-paru. Penderita xanthoma diseminata akan mengalami gejala sesak napas, sulit menelan, dan kehilangan penglihatan tiba-tiba. Jenis ini lebih berbahaya karena jika dibiarkan lama bisa mengganggu kinerja jantung dan paru-paru sehingga bisa menyebabkan kematian.Meski benjolan yang timbul pada kulit tidak berbahaya, xanthoma tetap menjadi pertanda bahwa kadar kolesterol di dalam tubuh Anda tinggi dan bisa menyebabkan penyakit lain yang lebih berat. Kolesterol tinggi menyebabkan akumulasi kolesterol dan endapan lain di dinding arteri dan menghambat aliran darah. Penumpukan tersebut bisa menyebabkan komplikasi seperti sakit dada, serangan jantung, hingga stroke.

Nekrolisis Epidermal Toksik, Penyakit Yang Merusak Kulit

Nekrolisis Epidermal Toksik

Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah penyakit yang menyerang kulit akibat munculnya reaksi hipersensitivitas dengan beragam penyebab dan kondisi medis tertentu. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan jaringan kulit yang cukup luas, yang dapat berujung pada infeksi berat dan kematian. Tidak hanya itu, Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) juga bisa menyerang organ dalam dan menyebabkan gangguan pernapasan, perdarahan di saluran pencernaan, gangguan pada saluran kemih, dan sebagainya.

Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik umumnya adalah reaksi alergi yang berat terhadap obat-obatan tertentu. Contohnya, antibiotik jenis sulfonamida, obat antiepilepsi (seperti, fenitoin, carbamazepine, lamotrigine, dan fenobarbital), serta obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Selain alergi obat samping, Nekrolisis Epidermal Toksik juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, vaksin, atau Graft versus Host Disease (GvHD).

Gejala Nekrolisis Epidermal Toksik diawali dengan gejala yang menyerupai infeksi saluran pernapasan bagian atas atau flu, seperti demam melebihi 39 derajat Celcius, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, mata merah, serta tubuh terasa lelah. Gejala awal atau prodromal ini berlangsung selama beberapa hari.

Selanjutnya, gejala yang muncul pada penderita berupa ruam kulit berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada wajah atau tungkai. Perluasan penyebaran ini berlangsung selama maksimal 4 hari. Luka kulit tersebut dapat berupa kulit merah yang datar dan meluas, luka berbentuk seperti papan target panah, atau luka lepuh. Luka melepuh kemudian menjadi lapisan kulit yang terkelupas hingga  menyisakan lapisan tengah kulit atau dermis yang berwarna merah gelap dan terlihat seperti luka bakar.

Nekrolisis Epidermal Toksik ini gejala awalnya menyerang pada kulit. Meski begitu selain kulit, muncul juga gejala pada bagian tubuh yang lain, seperti pada

  • Mata, sehingga mata menjadi merah atau sensitif terhadap cahaya
  • Mulut atau bibir, di mana bibir terlihat merah, berkerak, atau sariawan
  • Tenggorokan dan kerongkongan, yang dapat menimbulkan kesulitan menelan
  • Saluran kencing dan kelamin, yang dapat menyebabkan gejala retensi urine dan luka
  • Saluran pernapasan, yang dapat menyebabkan batuk dan sesak napas
  • Saluran pencernaan, yang menimbulkan gejala diare

Dalam kondisi ini, pasien mengalami nyeri yang cukup parah dan merasa gelisah. Selain itu, organ lain seperti hati, ginjal, paru-paru, sumsum tulang, dan sendi juga dapat mengalami gangguan.

Setelah didiagnosis menderita Nekrolisis Epidermal Toksik, pasien akan dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan luka bakar atau ruang perawatan intensif. Selanjutnya, pasien akan diberi cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi  karena kehilangan lapisan kulit. Selain itu, pasien akan diberi obat-obatan untuk meredakan nyeri atau rasa gatal, mencegah infeksi, serta obat yang dapat memperkuat sistem imun tubuh.

Jika pemberian obat tidak dapat menyembuhkan kondisi kulit pasien, maka dokter dapat melakukan tindakan operasi. Tindakan ini dapat berupa operasi untuk membersihkan dan mengangkat jaringan mati pada luka (debridement), serta operasi pencangkokan kulit di mana kulit yang sehat dari area lain diambil untuk ditempatkan pada area luka. Kulit sehat juga bisa didapat dari donor.

Setelah dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang ke rumah, perawatan mandiri perlu dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan. Perawatan di rumah yang bisa dilakukan sebagai berikut

  • Merawat luka sesuai anjuran dokter, misalnya mengganti perban, untuk mempercepat penyembuhan dan menurunkan risiko infeksi
  • Merawat kesehatan mulut, misalnya menggunakan obat kumur dan memakai sikat gigi lembut jika terdapat luka pada mulut
  • Mengonsumsi cairan sesuai anjuran dokter untuk mencegah dehidrasi akibat pengelupasan kulit

Penderita Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) akut dapat pulih dalam waktu 8 hingga 12 hari. Sementara rekonstruksi kulit yang mengelupas memerlukan waktu selama beberapa minggu. Jadi, Nekrolisis Epidermal Toksik adalah penyakit kulit yang cukup merusak dan memerlukan waktu serta pengobatan yang cukup panjang agar bisa sembuh. Meski begitu, jika sudah terlihat gejala awalnya, segeralah periksa ke dokter sebelum kondisi kulit semakin parah.

Lensa Kontak Baru dari Holicat? Awas Salah Penggunaan

Lensa Kontak Baru dari Holicat? Awas Salah Penggunaan

Lensa kontak banyak tersedia di pasaran saat ini. Anda bisa membeli lensa kontak berkualitas di Holicat. Pada dasarnya, lensa kontak didesain untuk meningkatkan penglihatan seseorang. Sayangnya, apabila tidak digunakan dengan benar, lensa kontak malah dapat melukai dan membahayakan mata. Laporan yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) baru-baru ini menyatakan bahwa 1 dari 5 infeksi mata berhubungan dengan penggunaan lensa kontak melibatkan kerusakan mata serius. Menurut Michael Beach, Ph.D, selaku direktur dari Program Air Sehat milik CDC, lensa kontak merupakan bentuk koreksi penglihatan yang aman dan efektif ketika dipakai dan dirawat sesuai dengan yang direkomendasikan. Akan tetapi, penggunaan dan perawatan lensa kontak yang salah malah dapat menyebabkan infeksi mata yang terkadang dapat berujung pada kerusakan jangka panjang dan serius. 

Meskipun serius, tapi dapat dicegah

Lensa kontak yang Anda beli di Holicat atau di tempat lain pada dasarnya aman dan efektif membantu meningkatkan kemampuan melihat apabila digunakan dengan cara yang tepat. Dalam laporan mereka, CDC melihat 1075 infeksi yang berhubungan dengan lensa kontak yang dilaporkan ke FDA dari tahun 2005 hingga 2015. Lebih dari 10 persen dari kasus tersebut melibatkan pasien yang membutuhkan perawatan klinis kegawatdaruratan. Dalam semuanya, sekitar 20 persen dari laporan tersebut melibatkan orang-orang yang menderita kerusakan mata serius. 

Dalam kasus yang paling ekstrim, pasien memiliki kornea yang rusak atau menderita hilangnya penglihatan. Bahkan beberapa membutuhkan transplantasi kornea. Petugas CDC menyatakan 1 dari 4 infeksi berakibat dari perilaku yang sesungguhnya mudah untuk dihindari. Menurut Dr. Jennifer Cope, M.P.H., di Amerika Serikat sekitar 41 juta orang memakai lensa kontak dan mendapatkan manfaat berkat kemampuan melihat yang semakin baik dan kenyamanan yang dimilikinya. Namun, meskipun orang-orang yang menderita infeksi serius mewakili persentase kecil dari mereka yang memakai lensa kontak, mereka menjadi pengingat bagi semua pengguna lensa kontak untuk melakukan langkah-langkah sederhana untuk mencegah infeksi. 

Perilaku salah yang biasa terjadi

Petugas CDC menyatakan kesalahan paling umum yang orang lakukan adalah tidur dengan memakai lensa kontak yang tidak didesain untuk digunakan semalaman. Selain itu, para pengguna kerap tidak mengganti lensa ketika lensa tersebut telah mencapai masa kadaluwarsa. Menurut Dr. John Bartlett, seorang dokter mata di Pusat Medis Ronald Reagan UCLA, gangguan paling umum yang sering dijumpai adalah orang-orang menggunakan lensa kontak terlalu lama. Ia juga menyatakan kebanyakan waktu lensa kontak masih terasa nyaman digunakan setelah dua minggu atau satu bulan penggunaan yang direkomendasikan, sehingga orang akan terus memakai lensa kontak tersebut. Dr. John Bartlett menyatakan bahwa lensa kontak harus dibuang setelah masa kadaluwarsa tiba tidak peduli apakah lensa kontak masih nyaman atau tidak. Selain itu, ia menambahkan apabila lensa kontak tidak terasa nyaman sebelum masa kadaluwarsa, lensa kontak perlu dibuang dan diganti dengan segera. Terus memakai lensa kontak tersebut akan menempatkan seseorang pada risiko yang lebih besar. 

Namun, yang menjadi kesalahan terbesar seseorang, menurut Dr. John Bartlett, bukanlah memakai lensa kontak yang dibeli di Holicat atau tempat lain terlalu lama, melainkan membiarkan larutan lama yang digunakan untuk membersihkan lensa kontak tertinggal di lensa. Ia menyatakan sedikit larutan lama yang tertinggal di lensa untuk kemudian menggunakan larutan baru dapat menyebabkan masalah besar, seperti larutan campuran (lama dan baru) dapat mengencerkan kemampuan larutan tersebut dalam membunuh kuman.