Pentingnya Peran Dokter Fisioterapi untuk Membantu Pemulihan Gerakan

Pentingnya Peran Dokter Fisioterapi untuk Membantu Pemulihan Gerakan

Fisioterapis merupakan sebutan untuk orang yang bekerja di bidang fisioterapi. Fisioterapis di rumah sakit biasanya adalah seorang dokter fisioterapi yang memiliki gelar Sst.FT. Fisioterapis sering bekerja sebagai bagian dari tim multidisiplin di berbagai bidang kedokteran dan pengaturan seperti rumah sakit, klinik kesehatan, pusat kesehatan masyarakat, beberapa operasi GP, beberapa tim olahraga, beberapa klub dan badan amal, bahkan tempat kerja. 

Apa itu fisioterapi? 

Fisioterapi merupakan proses rehabilitasi dengan tujuan menghindarkan seseorang dari cacat fisik yang disebabkan oleh penyakit atau cedera. Fisioterapi menggunakan metode yang lengkap dan spesifik. Selain itu, penerapan fisioterapi pun lebih fleksibel dan tidak harus di rumah sakit saja. Fisioterapi dilakukan agar fungsi tubuh dapat kembali setelah terkena penyakit atau cedera. Fisioterapi bahkan bisa membantu mengurangi dampak pada tubuh yang mengalami penyakit atau cedera permanen. Berbagai metode yang diterapkan akan dibimbing dan dibantu oleh dokter fisioterapi. Jangka waktu dan jenis fisioterapi bisa berbeda tergantung kondisi medis yang dialami pasien. 

Kondisi yang ditangani dokter fisioterapi

Tidak semua orang membutuhkan perawatan fisioterapi. Hanya orang dengan kondisi tertentu yang perlu menjalani fisioterapi. Beberapa kondisi tersebut meliputi berikut ini.

  1. Gangguan pernapasan 

Penyakit yang terkait dengan sistem pernapasan dapat diringankan menggunakan fisioterapi. Beberapa penyakit tersebut yaitu asma, penyakit paru obstruktif kronik, serta fibrosis kistik. Serangkaian metode akan diberikan oleh dokter fisioterapi seperti cara tubuh bernapas lebih baik serta cara mengontrol gejala yang muncul.  

  1. Penyakit kardiovaskular 

Fisioterapi juga dapat digunakan untuk membantu penyakit yang berhubungan dengan sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Tidak semua penyakit sistem kardiovaskular dapat dibantu menggunakan fisioterapi, hanya penyakit jantung kronis dan rehabilitasi pasca serangan jantung. Dukungan fisik dan emosional akan diberikan saat fisioterapi dilakukan sehingga kondisi pasien membaik dan semakin berkualitas. 

  1. Gangguan pada otot kerangka tubuh

Beberapa kondisi medis seperti nyeri punggung, nyeri otot, sakit tulang di tulang ekor dapat disebabkan oleh gangguan pada otot kerangka tubuh (neuromuskuloskeletal). Fisioterapi dapat digunakan untuk mengatasi beberapa kondisi tersebut. Selain itu, cedera olahraga seperti cedera ACL dan arthritis juga seringkali dibantu dengan fisioterapi. Tidak hanya itu, pemulihan pasca operasi pada otot dan tulang seringkali membutuhkan fisioterapi. 

  1. Gangguan sistem saraf 

Dalam mengatasi gangguan sistem saraf juga membutuhkan bantuan fisioterapi. Beberapa gangguan sistem saraf bisa menyebabkan terganggunya fungsi tubuh seperti kesulitan bicara, bergerak, dan menurunnya kinerja tangan. Penyakit yang terkait dengan sistem saraf tersebut yaitu stroke (stroke iskemik ataupun stroke hemoragik), penyakit Parkinson, dan multiple sclerosis. 

Bentuk perawatan fisioterapi

Dokter fisioterapi tidak akan berhasil tanpa keterlibatan pasien secara aktif. Kedisiplinan pasien juga diperlukan sebab fisioterapi tidak hanya dilakukan satu kali saja. Agar penanganan menggunakan fisioterapi berhasil dan efektif, beberapa faktor terkait juga perlu senantiasa diperhatikan seperti aktivitas sehari-hari, gaya hidup, dan kesehatan secara umum. Dalam melakukan fisioterapi, dokter dapat menggunakan beberapa metode seperti: 

  • Program latihan 
  • Teknik elektroterapi 
  • Fisioterapi manual
  • Terapi okupasi

Meskipun fisioterapi diterapkan untuk membantu kondisi medis tertentu, namun bisa saja muncul efek samping. Beberapa efek samping yang mungkin muncul seperti nyeri dan kelelahan, sakit punggung, pegal-pegal, serta bagian tubuh yang menjalani terapi terasa nyeri ketika disentuh. Apabila Anda mengalami keluhan tersebut dan semakin hari semakin terasa parah maka sebaiknya beritahu dokter fisioterapi yang merawat Anda. Jika terdapat pertanyaan lebih lanjut tentang fisioterapi, tanyakan secara langsung pada dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh sekarang di App Store atau Google Play. 

Dampak Terapi Okupasi Bagi Perkembangan Anak dengan Autisme

Dampak Terapi Okupasi Bagi Perkembangan Anak dengan Autisme

Kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari sering ditemui oleh anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Gangguan ini dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam memahami peraturan sosial, ketidakpatuhan terhadap peraturan sosial yang berlaku, kurang fleksibel terhadap hal-hal baru, ketertarikan pada hal yang dikenal saja sehingga sulit untuk mendapatkan hal baru, perilaku repetitif, hingga gangguan aktivitas (hipo atau hiperaktif).

Terapi okupasi dan autisme

Meskipun hingga saat ini penyebab gangguan spektrum autisme belum diketahui, tetapi pada umumnya anak dengan gangguan autisme membutuhkan beberapa terapi seperti, terapi okupasi. Terapi okupasi bukanlah terapi yang berhubungan dengan pekerjaan, terapi ini bertujuan untuk membantu orang-orang dengan disabilitas fisik, sensorik atau kognitif dapat hidup dengan mandiri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Diharapkan anak-anak dengan gangguan spektrum autisme dapat bermain, bersekolah, dan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri, sehingga kualitas hidup baik di sekolah dan di rumah meningkat. Berikut kemampuan yang dapat dicapai dengan terapi okupasi:

  • Merawat diri sendiri, seperti toilet training, memakai baju secara mandiri, menggosok gigi, dan menyisir rambut.
  • Kemampuan motorik halus seperti kemampuan memegang pensil untuk menulis
  • Kemampuan motorik kasar seperti berjalan atau mengendarai sepeda
  • Kemampuan persepsi dengan harapan anak dengan gangguan spektrum autisme dapat membedakan warna, bentuk, dan ukuran
  • Kepekaan terhadap tubuh sendiri dan hubungan antar anggota tubuh yang lain
  • Kemampuan visual untuk membantu dalam membaca dan menulis
  • Kemampuan untuk beradaptasi, bersosialisasi, menyelesaikan masalah, dan berkomunikasi.

Meningkatkan kemampuan anak dengan autisme melalui terapi okupasi

Meskipun terlihat sepele, ternyata dengan meningkatnya kemampuan tersebut pada anak dengan gangguan spektrum autisme dapat membantu mereka untuk membangun hubungan dengan orang lain, melatih konsentrasi, mengungkapkan perasaan dengan cara yang lebih tepat, bermain, dan dapat mengontrol diri sendiri. Sangat penting bagi para orang tua untuk memahami bahwa gangguan spektrum autisme memiliki variasi gejala yang berbeda mulai dari ringan hingga berat. Kebutuhan dan efek terapi okupasi juga akan berbeda-beda sesuai dengan spektrum gejala autisme yang timbul pada anak