Hati-hati, Ini Efek Samping Ibu Menyusui Berpuasa

Hati-hati, Ini Efek Samping Ibu Menyusui Berpuasa

Ibu hamil dan menyusui memang tidak diwajibkan untuk ikut berpuasa di bulan Ramadan. Tapi, boleh-boleh saja ibu menyusui berpuasa asal tetap menjaga kesehatan baik ibu dan juga sang anak.

Sebab, berpuasa dalam jangka waktu yang panjang seperti saat di bulan Ramadan bisa menyebabkan sejumlah efek samping. Kenali efek samping tersebut untuk mengantisipasi sebelum Anda ikut berpuasa.

Efek samping ibu menyusui berpuasa

Ada beberapa efek samping yang bisa terjadi saat ibu menyusui berpuasa, oleh karena itu diperbolehkan tidak ikut puasa saat bulan Ramadan. Ibu menyusui butuh asupan kalori yang banyak baik untuk dirinya maupun bayi yang ia susui.

Apa saja efek samping yang bisa terjadi? Berikut penjelasannya:

1. Efek samping pada bayi

Apabila Anda memutuskan untuk ikut berpuasa, tidak ada efek samping yang dapat terjadi pada bayi Anda. Sebab tubuh akan terus memproduksi ASI seperti biasanya, meskipun kemungkinan Anda bisa mengalami penurunan asupan kalori.

Saat tubuh membakar energi dari makanan terakhir Anda, ia akan beradaptasi dan menggunakan energi dari penyimpanan lainnya. Misal seperti dari penyimpanan gula darah, kemudian akan mengubah lemak jadi gula darah.

2. Efek samping pada produksi ASI

Produksi ASI memang bisa berisiko berkurang saat Anda memutuskan untuk berpuasa, namun tidak terlalu banyak. Kadar kandungan ASI bisa berubah, misalnya beberapa jenis vitamin dan mikronutrien lainnya. 

Bayi bisa beradaptasi terhadap perubahan ini. Namun tentu saja, bayi Anda bisa berisiko memperlambat penambahan berat badan bayi jika berpuasa sebulan penuh sehingga Anda benar-benar perlu memperhatikan asupan makanan Anda cukup dan bernutrisi. 

3. Efek samping pada ibu menyusui

Tubuh Anda bisa beradaptasi dengan baik selama berpuasa, namun tentu saja jika dilakukan dalam waktu yang lama tentu kadar gula darah Anda bisa berisiko jadi rendah. Gula darah rendah bisa menyebabkan masalah kesehatan serius bila tidak segera ditangani. 

Selain itu, Anda juga berisiko mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan. Kenali gejala dehidrasi dan segera batalkan puasa jika mengalaminya, seperti rasa haus, warna urine gelap, pusing, serta lemas.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda agar mengonsumsi makanan yang seimbang, dengan kalori yang cukup dan juga bernutrisi tinggi. Karena jika puasa menyebabkan perubahan kandungan nutrisi di dalam ASI, tentunya perubahan ini juga terjadi pada asupan nutrisi di dalam tubuh Anda.

Kemudian, jangan lupa perhatikan asupan cairan Anda. Asupan cairan yang cukup akan membantu memperlancar produksi ASI dan juga proses puasa Anda.

Anda bisa memperbanyak asupan cairan Anda saat sahur dan saat berbuka puasa. Ibu menyusui membutuhkan cairan yang lebih banyak untuk menjaga tubuh dan juga bayi agar tetap sehat. 

Dengan mempertimbangkan beberapa risiko di atas, tentunya sangat disarankan bagi ibu menyusui untuk tidak berpuasa. Terlebih lagi, Islam juga tidak mewajibkan puasa di bulan Ramadan bagi ibu menyusui.

Selain itu, sebaiknya Anda menunggu usia anak Anda sedikit lebih tua sehingga tidak terlalu bergantung pada ASI. Umumnya di atas usia 6 bulan pada saat bayi sudah mulai bisa mengonsumsi makanan pendamping ASI atau MPASI.

Konsultasikan dengan dokter kandungan Anda sebelum memutuskan untuk ikut berpuasa. Sehingga Anda mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan oleh ibu menyusui berpuasa selama sebulan penuh agar tidak menimbulkan berbagai macam risiko dan masalah bagi kesehatan ibu serta bayi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *