Lichen sclerosus, Penyakit yang Menyerang Wanita Setelah Menopause

Lichen sclerosus adalah salah satu gangguan kulit yang menyebabkan timbulnya bercak-bercak putih, paling sering terjadi pada area kelamin. Kulit pada bagian bercak ini biasanya terlihat lebih tipis dibandingkan kulit normal. Semua orang berisiko mengalami Lichen sclerosus. Lichen sclerosus mungkin juga muncul di  bagian atas tubuh, seperti dada dan lengan. Penyakit ini umumnya menjangkiti wanita. Namun, laki-laki dan anak-anak juga bisa terkena penyakit ini. Namun kalangan orang yang paling berisiko tinggi adalah wanita setelah menopause. Lichen sclerosus bersifat kambuhan. Oleh karena itu, penderitanya dianjurkan untuk telaten merawat dan rutin memeriksakan kondisi kulitnya ke dokter.

image Lichen Sclerosus

Lichen sclerosus ini merupakan penyakit yang tidak dapat ditularkan melalui kontak fisik, termasuk hubungan seksual. Penyebab lichen sclerosus belum dapat dipastikan, namun diduga berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon. Pada kasus lichen sclerosus (LS) yang ringan, terkadang tidak terlihat tanda atau gejala yang jelas. Berdasarkan gejalanya, lichen sclerosus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu

  1. Lichen sclerosus vulva (LS Vulva)

Pada wanita, kondisi ini muncul pada area vulva, yaitu bagian genital wanita. LS vulva bisa terjadi pada satu area kecil atau menyebar hingga perineum (area lubang anus dan vagina). Pada sebagian penderita, lichen  sclerosus dapat menyebar hingga ke kulit di sekitar anus. Kendati demikian, ini tidak berpengaruh ke dalam mukosa vagina.  Gejala lain yang menyertai LS vulva adalah rasa gatal, yang biasanya akan bertambah parah pada malam hari, sampai mengganggu tidur. Gejala berikutnya adalah kulit semakin tipis, berkeriput, muncul memar, luka lepuh, dan borok, terutama setelah digaruk. Jika kondisi ini tidak diobati, vulva dapat secara bertahap menjadi jaringan parut dan menyusut, sehingga pintu vagina semakin sempit dan mengeras. Hal ini dapat membuat rasa tidak nyaman dan nyeri saat berhubungan seksual. Selain gejala-gejala tersebut, LS juga dapat membuat urine menjadi bau.

  1. Lichen sclerosus extragenital 

Kondisi ini juga menyerang wanita. Biasanya ditemukan satu atau beberapa bercak pada paha dalam, bokong, punggung bawah, perut, di bawah payudara, leher, bahu, dan ketiak. Bercak tersebut menyerupai kertas Gejala lainnya adalah folikel rambut yang terlihat jelas, kulit kering, memar, luka lepuh, dan borok.

  1. Lichen sclerosus penis

Pada pria, lichen sclerosus cenderung berkembang pada kulup atau ujung penis, dan jarang menyerang kulit di sekitar anus. Selanjutnya, daerah yang terkena lichen sclerosus akan berwarna putih, mengeras, dan terdapat jaringan parut Kondisi ini membuat uretra menyempit, sehingga aliran urine menjadi bengkok dan kulup sulit untuk ditarik (fimosis). Akibatnya, penderita akan kesulitan buang air kecil dan merasakan nyeri saat ereksi. 

Pada kasus di mana lichen sclerosus lebih banyak dialami oleh wanita pasca menopause, diduga penyebabnya adalah akibat kekurangan hormon estrogen. Selain itu, kerusakan kulit yang telah ada sebelumnya juga diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. Sedangkan pada pria, lichen sclerosus diduga terjadi akibat kerusakan berkala yang dipicu oleh penyumbatan urine di bawah kulup penis. Lichen sclerosus belum ditemukan cara untuk pencegahan dari penyakit ini. Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala dari lichen sclerosus segeralah periksa ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat. Jika tidak, penyakit ini dapat menyebabkan jaringan parut alat kelamin menyempit dan mengganggu saat buang air kecil atau berhubungan seks. Jadi, segeralah konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala dari lichen sclerosus agar kondisi tidak semakin parah dan memburuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *