Perbedaan Sindrom Munchausen dan Malingering

Perbedaan Sindrom Munchausen dan Malingering

Sindrom munchausen dan malingering merupakan dua gangguan kepribadian pada kondisi yang hampir sama. Keduanya melibatkan orang yang membesar-besarkan atau membuat gejala suatu penyakit. Seseorang dengan sindrom munchausen akan sering berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya. Mereka tidak takut ketika diminta untuk berobat ke dokter untuk memeriksakan diri saat mengeluhkan gejala sakit. 

Sedangkan sindrom malingering adalah sebuah istilah untuk orang yang berpura-pura sakit demi mendapatkan keuntungan pribadi. Keuntungan yang dimaksud tidak terbatas hanya pada perhatian dari orang sekitar seperti yang diinginkan pemilik sindrom munchausen. Para ahli menyebutkan bahwa sindrom ini berkaitan dengan gangguan kepribadian yang antisosial serta riwayat kepribadian penderitanya. 

Berbeda dengan sindrom munchausen yang terjadi akibat ingin mendapatkan perhatian lebih dari orang lain, malingering justru terjadi akibat ingin menghindari suatu hal seperti hukuman, mendapatkan tunjangan pekerjaan, penggunaan obat-obatan dan lainnya.  

Terdapat perbedaan motivasi antara seseorang yang mengalami sindrom munchausen dan . malingerers. Untuk orang dengan sindrom munchausen, motivasi mereka seringkali tidak diketahui bahkan oleh diri mereka sendiri. Sedangkan motivasi penderita malingerers  memalsukan penyakit untuk keuntungan finansial atau pribadi.

Perbedaan lainnya adalah orang dengan sindrom munchausen tidak dapat mengontrol perilakunya. Meskipun mereka tahu risikonya, mereka tidak dapat menahan diri. Sebaliknya, perilaku malingerer dilakukan secara sengaja dan sukarela. Mereka tidak merasa terpaksa, tetapi memilih untuk berperilaku seperti itu untuk keuntungan pribadi mereka.

Bagi penderita kelainan ini, diagnosis yang benar sangatlah penting. Terutama pada penderita sindrom munchausen. Hanya dengan diagnosis yang akurat mereka bisa mendapatkan perawatan yang tepat. Tanpa adanya pengobatan, penderita sindrom ini berisiko akan melukai diri sendiri atau orang lain, tergantung pada jenis gangguan yang mereka alami.

Beberapa orang dengan sindrom munchausen rela melukai diri sendiri dengan gejala penyakit palsu. Misalnya, mereka membuat diri mereka sakit dengan menelan atau menyuntikkan zat berbahaya. Mereka mungkin akan melukai diri sendiri atau meminum obat yang belum diresepkan. Hal ini sering kali berbahaya, tetapi orang dengan sindrom munchausen tidak dapat menahan diri, meskipun mereka tahu risikonya.

Malingering juga berisiko melukai diri sendiri, karena alasan yang sama. Malingering cenderung tidak melakukan hal yang sama untuk gejala palsu. Namun, mereka masih menghadapi risiko perawatan medis atau pengobatan yang tidak perlu.

Perlu diketahui juga bahwa motivasi yang mendorong sindrom munchausen dan malingering sangatlah berbeda. Sehingga pengobatan dan kebutuhannya juga sangat berbeda. Pada sindrom  munchausen  perawatan berfokus pada manajemen gejala, karena gangguan ini dianggap tidak dapat disembuhkan. Namun, sindrom ini bisa dikendalikan setelah diagnosis dan penderita mau bekerja sama dengan keluarga, kerabat, atau tenaga kesehatan mental profesional untuk menanggulangi sindrom ini.

Sedangkan, malingering bukanlah penyakit mental yang sebenarnya. Perilaku yang dilakukan seorang malingerer adalah disengaja, dengan motif yang jelas. Perawatan tidak diperlukan, kecuali jika menyebabkan cedera yang nyata. Orang yang malingering hampir tidak pernah menerima rujukan kejiwaan. Oleh karena itu, perlu ketegasan dokter dan upaya dari pihak medis tanpa dicampuri oleh pihak lain dalam menangani kasus malingering.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sindrom munchausen ataupun malingering memiliki kondisi yang sama yaitu sama-sama terkait dengan penyakit yang tidak benar-benar terjadi. Hanya saja yang membedakan adalah motivasi mereka dalam melakukan hal tersebut.  Kemudian, malingering juga berbeda dari sindrom Munchausen yang mana penderitanya melakukan dengan sadar dan sengaja untuk kepentingan dirinya pribadi.