Nekrolisis Epidermal Toksik, Penyakit Yang Merusak Kulit

Nekrolisis Epidermal Toksik

Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah penyakit yang menyerang kulit akibat munculnya reaksi hipersensitivitas dengan beragam penyebab dan kondisi medis tertentu. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan jaringan kulit yang cukup luas, yang dapat berujung pada infeksi berat dan kematian. Tidak hanya itu, Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) juga bisa menyerang organ dalam dan menyebabkan gangguan pernapasan, perdarahan di saluran pencernaan, gangguan pada saluran kemih, dan sebagainya.

Penyebab Nekrolisis Epidermal Toksik umumnya adalah reaksi alergi yang berat terhadap obat-obatan tertentu. Contohnya, antibiotik jenis sulfonamida, obat antiepilepsi (seperti, fenitoin, carbamazepine, lamotrigine, dan fenobarbital), serta obat antiinflamasi non steroid (OAINS). Selain alergi obat samping, Nekrolisis Epidermal Toksik juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, vaksin, atau Graft versus Host Disease (GvHD).

Gejala Nekrolisis Epidermal Toksik diawali dengan gejala yang menyerupai infeksi saluran pernapasan bagian atas atau flu, seperti demam melebihi 39 derajat Celcius, nyeri tenggorokan, pilek, batuk, nyeri otot, mata merah, serta tubuh terasa lelah. Gejala awal atau prodromal ini berlangsung selama beberapa hari.

Selanjutnya, gejala yang muncul pada penderita berupa ruam kulit berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh, terutama pada wajah atau tungkai. Perluasan penyebaran ini berlangsung selama maksimal 4 hari. Luka kulit tersebut dapat berupa kulit merah yang datar dan meluas, luka berbentuk seperti papan target panah, atau luka lepuh. Luka melepuh kemudian menjadi lapisan kulit yang terkelupas hingga  menyisakan lapisan tengah kulit atau dermis yang berwarna merah gelap dan terlihat seperti luka bakar.

Nekrolisis Epidermal Toksik ini gejala awalnya menyerang pada kulit. Meski begitu selain kulit, muncul juga gejala pada bagian tubuh yang lain, seperti pada

  • Mata, sehingga mata menjadi merah atau sensitif terhadap cahaya
  • Mulut atau bibir, di mana bibir terlihat merah, berkerak, atau sariawan
  • Tenggorokan dan kerongkongan, yang dapat menimbulkan kesulitan menelan
  • Saluran kencing dan kelamin, yang dapat menyebabkan gejala retensi urine dan luka
  • Saluran pernapasan, yang dapat menyebabkan batuk dan sesak napas
  • Saluran pencernaan, yang menimbulkan gejala diare

Dalam kondisi ini, pasien mengalami nyeri yang cukup parah dan merasa gelisah. Selain itu, organ lain seperti hati, ginjal, paru-paru, sumsum tulang, dan sendi juga dapat mengalami gangguan.

Setelah didiagnosis menderita Nekrolisis Epidermal Toksik, pasien akan dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan luka bakar atau ruang perawatan intensif. Selanjutnya, pasien akan diberi cairan melalui infus untuk mencegah dehidrasi  karena kehilangan lapisan kulit. Selain itu, pasien akan diberi obat-obatan untuk meredakan nyeri atau rasa gatal, mencegah infeksi, serta obat yang dapat memperkuat sistem imun tubuh.

Jika pemberian obat tidak dapat menyembuhkan kondisi kulit pasien, maka dokter dapat melakukan tindakan operasi. Tindakan ini dapat berupa operasi untuk membersihkan dan mengangkat jaringan mati pada luka (debridement), serta operasi pencangkokan kulit di mana kulit yang sehat dari area lain diambil untuk ditempatkan pada area luka. Kulit sehat juga bisa didapat dari donor.

Setelah dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang ke rumah, perawatan mandiri perlu dilakukan pasien untuk mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan. Perawatan di rumah yang bisa dilakukan sebagai berikut

  • Merawat luka sesuai anjuran dokter, misalnya mengganti perban, untuk mempercepat penyembuhan dan menurunkan risiko infeksi
  • Merawat kesehatan mulut, misalnya menggunakan obat kumur dan memakai sikat gigi lembut jika terdapat luka pada mulut
  • Mengonsumsi cairan sesuai anjuran dokter untuk mencegah dehidrasi akibat pengelupasan kulit

Penderita Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) akut dapat pulih dalam waktu 8 hingga 12 hari. Sementara rekonstruksi kulit yang mengelupas memerlukan waktu selama beberapa minggu. Jadi, Nekrolisis Epidermal Toksik adalah penyakit kulit yang cukup merusak dan memerlukan waktu serta pengobatan yang cukup panjang agar bisa sembuh. Meski begitu, jika sudah terlihat gejala awalnya, segeralah periksa ke dokter sebelum kondisi kulit semakin parah.

Penyebab Sembelit yang Perlu Diwaspadai

penyebab sembelit

Frekuensi normal buang air besar (BAB) manusia memang tidak seragam. Kondisi tubuh dan apa yang mereka makan menjadi faktor pembeda. Namun, jika berpatokan dengan hasil studi ilmiah, normalnya orang BAB tiga kali setiap harinya. Artinya, bila frekuensi BAB seseorang di bawah itu, mereka dapat disebut mengalami sembelit. Menarik mengetahui berbagai kemungkinan penyebab sembelit.

Sembelit atau konstipasi merupakan sebuah gangguan atau masalah pada sistem pencernaan seseorang. Sebenarnya, sembelit tidak melulu soal jumlah atau frekuensi. Secara lebih luas, sembelit dapat dipahami sebagai kondisi di mana seseorang sulit untuk buang air besar. Seperti misalnya kondisi feses (kotoran) yang keras, juga dapat disebut sebagai salah satu manifestasi dari sembelit.

Biasanya, dunia medis mengkategorikan seseorang mengalami sembelit jika dalam satu pekan, dia hanya buang air besar kurang dari tiga kali. Umumnya, penyebab sembelit terjadi karena usus besar atau kolon menyerap terlalu banyak air dari feses. 

Ada banyak sekali hal yang menimbulkan kondisi tersebut. Akan tetapi, pola makan jadi salah satu penyebab utama. Tapi, Anda perlu mengetahui penyebab sembelit lain, yang mungkin, sering kali tak terdeteksi. Pasalnya, kondisi-kondisi yang akan disebut di bawah ini kerap tak disadari—makanya, kemungkinannya jadi semakin besar.

Kondisi yang dimaksud adalah kebiasaan seseorang sehari-hari, antara lain:

  • Terlalu lama dalam posisi duduk

Gaya hidup modern memungkinkan seseorang kurang bergerak. Kondisi ini disebut-sebut lebih buruk akibatnya dari penyebab sembelit lain, seperti misalnya kelebihan berat badan. Posisi duduk dalam waktu lama akan mengangkat usus besar seseorang. Lama kelamaan, kondisi ini akan menghambat BAB, dan akhirnya menyebabkan sembelit. 

Untuk menghindarinya, seseorang bisa beristirahat secara teratur untuk berdiri atau melakukan pergerakan lain. Anda bisa berjalan dan berjongkok agar kondisi pencernaan Anda tetap sehat. Sebab dua Gerakan tersebut sangat efektif untuk melancarkan buang air besar.

  • Makan dengan cepat

Banyak narasi yang menganjurkan seseorang untuk makan secara perlahan. Pasalnya, cara makan seperti itu punya banyak keuntungan, salah satunya terhindar dari sembelit. Makan terlalu cepat jadi kebiasaan yang bisa jadi penyebab sembelit karena mekanisme kerja pencernaan seseorang tak dapat mengimbangi intensitas makanan yang dimasukkan ke perut.

Mudahnya, jika seseorang makan dengan cepat, potongan makanan yang lebih besar tidak akan terurai atau diserap seluruhnya sebelum pindah ke usus besar. Selain itu, kebiasaan ini juga memicu sistem fight-or-flight Anda. Ketika Anda terburu-buru untuk menghabiskan makanan, tubuh Anda dapat mengartikannya sebagai tekanan.

  • Kerap menahan BAB

Kebelet atau perasaan ingin BAB di waktu dan situasi yang tidak tepat memang menjengkelkan. Kita kadang dipaksa untuk menunda atau menahan “panggilan alam” itu hingga mendapat kesempatan yang ideal. 

Masalahnya, kebiasaan seperti ini perlahan akan menimbulkan efek tertentu bagi kondisi pencernaan seseorang, salah satunya adalah sembelit. Pasalnya, apabila seseorang sering menahan BAB, usus besar dapat meregang sehingga seseorang tidak lagi mendapat dorongan teratur untuk buang air besar. Inilah yang pada akhirnya akan menyebabkan sembelit.

  • Mengonsumsi obat penghilang rasa sakit

Obat penghilang rasa sakit, apapun jenis atau bentuknya termasuk obat-obatan yang dijual bebas seperti Tylenol dan ibuprofen, serta obat resep seperti hidrokodon dan oxycontin, berpotensi besar menjadi penyebab sembelit. Pasalnya, obat-obatan ini mengikat reseptor yang sama di perut, mengumpulkan seluruh sistem pencernaan serta rasa sakit Anda.

Obat penghilang rasa sakit sebaiknya tidak digunakan lebih dari 30 hari jika memungkinkan. Selama waktu itu, Anda harus melakukan segala upaya untuk menyelesaikan cedera yang mendasarinya atau menemukan cara lain untuk mengobati rasa sakit. Sementara itu, gunakan pelunak feses setiap hari bersama dengan obat penghilang sakit.

***

Beberapa kebiasaan tersebut bisa dihindari atau setidak-tidaknya dikurangi. Sedikit upaya dari Anda untuk mengubah kebiasaan tersebut, bisa memiliki dampak besar bagi kondisi pencernaan Anda nantinya. Ada baiknya seseorang mulai memerhatikan kebiasaan-kebiasaan penyebab sembelit di atas secara serius jika tak ingin repot dengan urusan yang sebenarnya dapat dihindari ini. Perlu diingat pula bahwa sembelit memang terkesan sepele, tetapi andai dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin ia akan berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

5 Cara Deteksi Kondisi Tukak Duodenum

 Tukak duodenum

Tukak lambung merupakan peradangan dinding lambung yang bisa menyebabkan terjadinya luka, disebut juga tukak duodenum. Beberapa kasus kondisi ini bisa menyebabkan gangguan sistem pencernaan yang terjadi pada usus, khususnya usus halus atau kerongkongan yang letaknya berada di dekat lambung.

Keadaan ini muncul ketika dinding lambung dan usus halus terkikis sehingga ada yang mengenai jaringan lebih dalam. Jika penderita kondisi ini tidak mendapatkan perawatan yang tepat, maka lambung bisa mengalami nyeri yang berkepanjangan dan tidak diketahui akan berlangsung berapa lama, selain itu bisa menimbulkan kerusakan organ cerna.

Tes Deteksi Tukak Duodenum

Kondisi ini sering disebut dengan tukak lambung karena memang memiliki gejala yang nyaris sama, yang membedakan hanyalah kapan dan dimana gejala ini muncul. Gejala kondisi ini mengikuti pola, nyeri yang biasanya hilang pada saat bangun tidur dan muncul pada pertengahan pagi hari. Mengkonsumsi susu atau makan dan mengkonsumsi obat antasida bisa untuk meredakan sakit.

Setelah itu biasanya rasa nyeri akan muncul kembali pada 2 sampai 3 jam kemudian, rasa sakit yang muncul bisa menyebabkan penderita terbangun di malam hari. Kondisi ini memang umum dialami, biasanya rasa sakit terasa lebih dari satu kali dalam satu hari. Periode munculnya kondisi selama beberapa minggu dan sulit hilang jika tanpa melakukan perawatan dengan pemeriksaan berikut ini.

  1. Pemeriksaan Tinja

Tujuan dilakukan pemeriksaan tinja adalah untuk mengetahui adanya perdarahan pada saluran cerna, dokter kemudian akan meminta pemeriksaan darah samar dengan mengambil sampel tinja si penderita.

  1. Foto Rontgen

Foto rontgen kerongkongan, lambung dan usus 12 jari, tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memperlihatkan kondisi beberapa organ tersebut dengan bantuan sinar-x. Ketika pemeriksaan, pasien akan diminta menelan cairan khusus yang mengandung barium agar luka terlihat jelas.

  1. Gastroskopi

Dilakukan dengan menggunakan selang kecil yang memiliki kamera, kemudian dimasukkan melalui kerongkongan hingga ke usus 12 jari. Hal ini dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi saluran pencernaan dan bahkan jika diperlukan dokter akan mengambil sampel jaringan untuk dianalisis.

  1. Tes Darah

Untuk menentukan kondisi ini, terutama memastikan karena infeksi bakteri H.pylori adalah dengan memeriksa antibodi. Antibodi yang muncul dalam darah karena infeksi bakteri ini, untuk itu diperlukan pemeriksaan darah.

  1. Tes Napas Urea

Selain menggunakan tes darah, memastikan kondisi ini karena infeksi bakteri juga dapat dilakukan dengan tes napas. Tujuan tes ini untuk mengetahui apakah ada gas karbondioksida tertentu pada hembusan napas, jika terdapat bakteri.

Pencegahan Tukak Duodenum

  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin dengan membatasi mengkonsumsi alkohol dan rokok dan menerapkan pola tidur yang baik.
  • Menghindari asupan makanan setidaknya tiga jam sebelum tidur, setidaknya selama tiga jam sebelum itu.
  • Hindari asupan makanan yang bisa memicu timbulnya gejala seperti makanan pedas, makanan asam, kopi, coklat dan lainnya.
  • Konsumsi makanan dengan frekuensi yang lebih sering dan dalam porsi lebih kecil, setidaknya jika ingin mengatasi kondisi ini

Gejala yang paling umum terjadi pada tukak duodenum adalah munculnya rasa panas dan sakit di sekitar daerah pusar dan tulang dada. Penderita mungkin juga akan merasakan beberapa keluhan lain dari keadaan ini, terutama di awal kemunculannya, berikut beberapa gejala dari kondisi ini.

  • Perut terasa begah, kembung dan sering bersendawa.
  • Intoleransi makanan berlemak.
  • Terasa mual dan mengalami heartburn atau sensasi perih di ulu hati.