Pilih Mana, Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Inklusi?

Pilih Mana, Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Inklusi?

Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada perbedaan, semuanya berhak menimba ilmu setinggi-tingginya. Bukan berarti, anak dengan kebutuhan khusus tidak bisa sekolah. Ya, mereka bisa menimba ilmu di sekolah manapun, termasuk sekolah luar biasa dan sekolah inklusi.

Pilihan jenis sekolah untuk anak berkebutuhan khusus ini tentu menjadi hal yang sangat diperhatikan oleh para orang tua. Pasalnya, salah dalam memilih sekolah hanya akan membuat anak menderita, tidak bisa belajar dengan baik, bahkan bisa menjadi bahan bullying oleh teman-temannya. Oleh sebab itu, Anda harus memahami dengan baik, perbedaan jenis sekolah yang ada, sehingga dapat menentukan sekolah terbaik untuk anak Anda.

Mengenal sekolah luar biasa (SLB) dan kategorinya.

Sekolah luar biasa merupakan sebuah lembaga pendidikan formal untuk anak berkebutuhan khusus, agar dapat menimba ilmu sesuai dengan kekhususannya. Anak berkebutuhan khusus ini meliputi anak yang mengalami kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial, tetapi punya bakat istimewa dan potensi kecerdasan. Artinya, tidak semua anak dengan kebutuhan khusus bisa berada dalam satu sekolah luar biasa (SLB) yang sama.

Ada 6 jenis sekolah luar biasa yang disesuaikan dengan kondisi dan kelainan yang dialami oleh anak, yaitu:

SLB-A, ditujukan untuk anak-anak yang mengalami tunanetra (keterbatasan dalam indera penglihatan). Umumnya, metode pengajaran yang diterapkan para guru di sini adalah model benda, gambar timbul, huruf Braille, dan perekam suara.

SLB-B, ditujukan untuk anak-anak dengan kondisi tunarungu (keterbatasan dalam indera pendengaran). Cara berkomunikasi yang diajarkan adalah menggunakan bahasa isyarat, membaca gerakan bibir lawan bicara, atau memakai alat bantu pendengaran.

SLB-C, ditujukan untuk anak-anak yang memiliki kelainan tunagrahita (keterbelakangan mental atau retardasi mental). Mereka cenderung memiliki IQ di bawah rata-rata, sehingga kemampuan intelegensinya pun lebih rendah dibandingkan anak lainnya. Para murid diajarkan untuk membina diri dan bersosialisasi, agar punya kepercayaan diri yang tinggi di tengah masyarakat dan mampu mengurus dirinya sendiri.

SLB-D, ditujukan untuk anak-anak yang mengalami tunadeksa (keterbatasan dalam anggota gerak tubuh). Anak dengan kondisi khusus seperti ini akan diajarkan tentang cara merawat, mengembangkan potensi, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri.

SLB-E, ditujukan untuk anak-anak dengan kondisi tunalaras (tidak mampu mengendalikan emosi dan perilaku). Umumnya, mereka akan berlaku tidak sesuai aturan, tidak sopan, mudah marah, suka membuat keributan, dan lainnya. Para murid akan diajarkan tentang cara mengendalikan emosi dan berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku.

SLB-G, ditujukan untuk anak-anak yang mengalami tunaganda (punya dua kelainan atau lebih). Misalnya, seorang anak yang menderita tunanetra dan tunarungu atau tunanetra dan tunalaras.

Orang tua harus pilih yang mana?

Dilansir dari laman Siap Sekolah, selain sekolah luar biasa (SLB), ada pula pilihan sekolah inklusi untuk anak-anak dengan disabilitas (AdD). Sekolah inklusi adalah sekolah reguler yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menerima AdD sebagai muridnya.

Perlu digarisbawahi, sekolah inklusi memberikan kesempatan untuk anak berkebutuhan khusus bisa belajar bersama dengan anak-anak reguler lainnya. Sayangnya, tidak semua sekolah reguler dapat menjadi sekolah inklusi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, termasuk lingkungan, tenaga pendidik, dan fasilitas lainnya apakah sudah memadai untuk AdD atau belum.

Namun, masih banyak para orang tua yang masih bingung dalam menentukan jenis sekolah untuk anaknya, apakah itu sekolah luar biasa atau sekolah inklusi. Agar tidak bingung, sebaiknya Anda simak perbedaan mendasarnya berikut ini.

  1. Sekolah inklusi direkomendasikan untuk anak berkebutuhan khusus dengan kemampuan kognitif yang cukup bagus. Jika ternyata kemampuan kognitifnya di bawah rata-rata, maka akan lebih baik jika belajar di sekolah luar biasa (SLB).
  2. Sekolah inklusi akan memperlakukan anak berkebutuhan khusus sama dengan anak-anak reguler, yaitu cara belajar dan lingkungan yang sama. Adapun sekolah luar biasa  (SLB) disesuaikan dengan kekhususan yang dimiliki oleh anak, mulai dari gurunya, cara berkomunikasi, hingga metode pembelajarannya.

Jadi, kembali lagi pada kemampuan dan kondisi anak Anda, apakah lebih cocok berada di sekolah luar biasa atau sekolah inklusi. Jangan sampai Anda memaksakan anak untuk belajar di tempat yang tidak sesuai dengan kemampuan dirinya, karena hanya akan membuatnya depresi. Pilihlah sekolah yang tepat untuk masa depan anak yang lebih baik.